Seumur Hidup Pilih Republik, Nenek 77 Tahun Ini Kini Pertimbangkan Coblos Demokrat

43 menit yang lalu 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tekanan biaya hidup mulai menjadi persoalan politik serius bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang pemilu sela 3 November 2026. Sejumlah upaya Gedung Putih untuk menekan harga menghadapi hambatan, sementara jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump menurun, termasuk di kalangan pendukung Partai Republik.

The Washington Post melaporkan pada Senin (28/9/2026), Gedung Putih telah menggulirkan sejumlah gagasan untuk meredakan tekanan harga. Namun, beberapa langkah tersebut justru menghadapi penolakan dari kelompok yang selama ini dekat dengan Partai Republik.

Trump sebelumnya membuka jalan bagi impor potongan daging sapi tanpa tarif selama 90 hari untuk meningkatkan pasokan dan menekan harga daging giling. Kebijakan itu mendapat tentangan dari sejumlah senator dan anggota DPR Republik dari negara bagian pertanian karena dikhawatirkan merugikan peternak Amerika.

Pemerintahan Trump kemudian mempertimbangkan pembatasan ekspor bahan bakar solar setelah harganya melonjak. Gagasan tersebut juga menghadapi keberatan perusahaan-perusahaan minyak besar dan Menteri Energi Chris Wright. Mereka memperingatkan pembatasan ekspor dapat mengurangi insentif produksi dan justru berisiko menaikkan harga di sebagian wilayah Amerika Serikat.

Di tengah tekanan tersebut, Trump menawarkan gagasan yang jauh lebih besar: memberikan dividen 5.000 dolar AS kepada setiap warga negara Amerika dewasa jika Partai Republik berhasil mempertahankan DPR dan Senat dalam pemilu sela.

Janji tersebut tidak sepenuhnya mendapatkan sambutan positif dari partainya sendiri. Sejumlah anggota parlemen Republik mempertanyakan konsekuensi fiskalnya karena program itu diperkirakan dapat membutuhkan lebih dari 1 triliun dolar AS.

Kongres juga harus menyetujui anggaran untuk merealisasikan pembayaran tersebut. Karena itu, kemenangan Republik pada November tidak dengan sendirinya membuat cek 5.000 dolar AS dapat langsung dibagikan.

The Washington Post melaporkan sebagian anggota Republik juga mengkhawatirkan suntikan uang sebesar itu dapat memperbesar defisit sekaligus menambah tekanan inflasi. Utang nasional Amerika Serikat telah melampaui 40 triliun dolar AS.

Persoalan ekonomi tersebut kini bertemu dengan persoalan politik yang lebih mendasar bagi Trump: kegelisahan di sebagian basis Republik.

Pemilih Loyal Mulai Ragu

Melanie adalah salah satu contohnya. Perempuan berusia 77 tahun dari North Carolina itu mengatakan dirinya selalu sangat konservatif dan belum pernah memilih kandidat Demokrat sepanjang hidupnya.

Namun menjelang pemilu sela, Melanie mengatakan sedang mempertimbangkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya: mencoblos kandidat Demokrat.

Melanie mengungkapkan kekecewaannya ketika menelepon program The Megyn Kelly Wrap-Up Show di SiriusXM yang dipandu Emily Jashinsky. Ia mengatakan kini hanya melihat dua pilihan, yakni tidak menggunakan hak suara atau memilih Demokrat.

“Pada titik ini, saya memiliki dua pilihan. Saya bisa tetap di rumah dan tidak memilih ... atau saya bisa memilih Demokrat,” kata Melanie.

Kekecewaannya terutama ditujukan kepada Partai Republik. Melanie bahkan mengatakan mempertimbangkan mencoblos seluruh kandidat Demokrat sebagai bentuk protes.

“Saya sangat marah kepada Partai Republik sehingga mungkin saja saya akan memilih Demokrat untuk semua posisi,” katanya.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan sederhana: “Mengapa saya harus tetap loyal kepada mereka?”

Kesaksian seorang penelepon tentu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan terjadinya perpindahan besar-besaran pemilih Republik. Namun, kegelisahan Melanie muncul ketika data yang lebih luas menunjukkan penurunan tingkat persetujuan terhadap Trump.

Baca Artikel Selengkapnya