REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Serangan Israel menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina di Jalur Gaza pada Selasa (20/10/2026). Di tengah serangan yang terus berlangsung, rumah sakit di wilayah tersebut juga menghadapi krisis malnutrisi berulang yang mengancam keselamatan anak-anak.
Almayadeen melaporkan, korban jiwa tersebar di sejumlah wilayah Gaza, mulai dari bagian utara hingga selatan. Sejumlah warga lainnya dilaporkan terluka akibat serangan artileri, tembakan, dan serangan pesawat nirawak Israel.
Di Gaza utara, Mahmoud Khalil Al-Matouq syahid di kawasan Al-Qassasib, Jabalia. Jenazahnya kemudian dibawa ke Kompleks Medis Al-Shifa.
Di Kota Gaza, Karam Abu Hazima syahid akibat tembakan dan bombardemen artileri Israel yang menyasar kawasan Al-Zaytoun. Sebelumnya, serangan terhadap sebuah apartemen permukiman menewaskan Akram Yassin dan istrinya, Dina.
Di Gaza tengah, Karam Abu Bteihan syahid ketika pesawat Israel menyerang dirinya dan seorang warga Palestina lainnya di luar kompleks pemakaman Al-Sawarha, kawasan Al-Zawaida. Korban yang terluka parah dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah.
Sementara itu, Baraa Maarouf syahid saat mengendarai sepeda motor di dekat Wadi Gaza, sebelah utara kamp pengungsi Nuseirat. Pesawat nirawak Israel juga menyerang kamp pengungsi Al-Bureij. Tembakan dari kendaraan militer Israel melukai seorang warga Palestina lainnya di sebelah timur Al-Maghazi.
Di Gaza selatan, Kompleks Medis Nasser mengumumkan kematian Majd Muhammad Fakhri Hassan, remaja berusia 15 tahun yang terkena tembakan Israel di Qizan al-Najjar, sebelah selatan Khan Younis.
Enam warga Palestina yang terluka juga tiba di rumah sakit tersebut setelah penembakan di sekitar garis kuning. Tiga orang lainnya dilaporkan terluka akibat tembakan Israel di Al-Mawasi, Rafah.
Ratusan Anak Meninggal akibat Kelaparan
Di luar korban serangan langsung, anak-anak Gaza menghadapi ancaman lain yang tak kalah serius, yakni kekurangan gizi akut yang terus berulang.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 466 kematian akibat kelaparan dan malnutrisi sejak 2024. Dari jumlah tersebut, 157 korban merupakan anak-anak.
Tim medis juga mencatat 158.001 kasus malnutrisi akut pada anak berusia di bawah lima tahun selama periode 2024 hingga Agustus 2026. Sebanyak 28.716 di antaranya merupakan kasus malnutrisi berat.
Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan sekitar 74.200 anak membutuhkan perawatan akibat malnutrisi akut hingga April 2027.
Krisis tersebut tercermin dari pengalaman keluarga-keluarga yang berjuang mempertahankan kesehatan anak mereka di tengah kemiskinan, pengungsian, dan terbatasnya akses terhadap makanan bergizi.
Di Rumah Sakit Anak Al-Rantisi, Kota Gaza, seorang bayi perempuan berusia 16 bulan bernama Sanaa Nael Abdullah baru saja diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan intensif selama tujuh hari akibat malnutrisi berat.
Ibunya mengatakan, Sanaa telah mengalami tiga episode malnutrisi sebelumnya sejak berusia lima bulan, ketika keluarganya menghadapi kelaparan dan pengungsian.
Keluarga tersebut kini tinggal di tenda dan sangat bergantung pada makanan yang dibagikan secara kolektif. Mahalnya harga susu formula memaksa sang ibu mengurangi pemberian susu kepada Sanaa dari tiga kali menjadi hanya sekali sehari. Pada saat bersamaan, tiga anak lainnya juga membutuhkan makanan dan perlengkapan dasar.
Kondisi serupa dialami Saifullah Hijazi, remaja berusia 14 tahun yang berat badannya hanya 22 kilogram. Setahun lalu, serpihan rudal menghantam lehernya hingga menyebabkan kelumpuhan sebagian dan kesulitan makan.
Ayah Saifullah syahid dalam serangan terpisah. Ibunya kini kesulitan memperoleh makanan yang sesuai dengan kondisi kesehatan anaknya.
“Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terus merasa pusing dan sakit kepala, serta terus tertidur,” kata ibunya kepada Quds News Network, sebagaimana dikutip Palestine Chronicle.
Kepala layanan nutrisi terapeutik sekaligus konsultan anak di Rumah Sakit Al-Rantisi, Dr Ahmed Basal, mengatakan, unit perawatan malnutrisi menerima sekitar 25 hingga 30 pasien setiap bulan.
Rumah sakit hanya merawat pasien dengan kondisi berat. Sementara itu, anak-anak dengan malnutrisi ringan dan sedang ditangani melalui layanan rawat jalan.
Menurut Basal, sekitar 70 persen pasien di unit tersebut berusia di bawah satu tahun.
Ia menjelaskan, kemiskinan, pengangguran, tingginya harga kebutuhan pokok, dan terbatasnya akses terhadap makanan bergizi menjadi faktor utama yang memperburuk krisis. Banyak keluarga tidak mampu membeli susu, telur, daging, dan sayuran segar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak mereka.
Persoalan tersebut diperparah oleh air yang tercemar dan buruknya sanitasi. Kondisi itu meningkatkan risiko infeksi, sementara malnutrisi membuat tubuh anak semakin lemah dalam melawan penyakit.
Rumah sakit juga menghadapi kekurangan obat-obatan, antibiotik, dan perlengkapan nutrisi terapeutik. Persediaan larutan rehidrasi yang diperlukan untuk menangani anak-anak dengan malnutrisi serta gangguan pencernaan turut terbatas.
Basal memperingatkan, kekurangan pasokan dapat memperlambat penanganan medis. Sementara itu, dampak ekonomi perang dan terbatasnya akses pangan terus membuat anak-anak rentan mengalami malnutrisi berulang.
Krisis tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap warga Gaza tidak hanya berasal dari serangan militer, tetapi juga dari memburuknya kondisi kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak yang telah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, keterbatasan makanan bergizi serta layanan kesehatan membuat pemulihan menjadi semakin sulit.
Tanpa perbaikan akses pangan, air bersih, dan pasokan medis, anak-anak Gaza berisiko terus terjebak dalam siklus kelaparan, penyakit, dan malnutrisi.

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·