Serang Iran dari Dalam, Kenapa Kurdi Menentang Kekuasaan Ayatollah?

2 jam yang lalu 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Kekuatan militer Iran mulai mendapat perlawanan dari dalam negeri mereka sendiri, yakni dari etnis Kurdi.

Sayap bersenjata kelompok Kurdi, Kurdistan Free Life Party (PJAK) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Iran di Marivan, Provinsi Kurdistan, Rojhelat, Minggu (2/8). Ini adalah wilayah barat Iran terutama Provinsi Kurdistan mayoritas dihuni etnis Kurdi (Rojhelat) yang selama ini menentang rezim Ayatollah.

Bentrokan bersenjata di dekat desa perbatasan Sianav, Kabupaten Marivan, pada Minggu ini menewaskan seorang prajurit Angkatan Darat Iran dan menyebabkan satu prajurit lainnya mengalami luka serius.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut informasi yang diterima Hengaw Organization for Human Rights yang berbasis di Swedia, para pejuang dari kelompok oposisi Kurdi terlibat bentrokan dengan pasukan Iran di dekat pangkalan militer di Desa Sianav, Kabupaten Marivan, sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Prajurit yang tewas dalam bentrokan tersebut diidentifikasi sebagai Abolfazl Goudarzi. Satu anggota Angkatan Darat lainnya mengalami luka serius dan dilarikan ke pusat medis di Marivan untuk mendapatkan perawatan.

Menurut informasi Hengaw, tidak ada anggota PJAK yang menjadi korban dalam bentrokan tersebut.

Sementara itu, dalam pernyataan resmi, Brigade Marivan ke-328 Angkatan Darat Iran mengatakan bahwa pangkalan perbatasan tersebut diserang menggunakan amunisi berkeliaran (loitering munitions) dan tembakan RPG.

Pada Senin (3/8), PJAK mengatakan serangan itu dilakukan sebagai aksi balasan atas tiga anggota dari satu keluarga Kurdi yang tewas pada pekan lalu.

Kenapa Kurdi melawan Iran?

Sejarah Kurdi di Iran, seperti halnya di Turki, merupakan perlawanan untuk menegakkan otonomi sendiri. Namun, selama itu pula suku Kurdi mendapatkan tekanan dari rezim di Iran.

Seringkali, warga Kurdi Iran yang menanggung beban terberat dari reaksi keras rezim Iran. Selama perang dengan Israel sejak 2025, misalnya, otoritas Iran menangkap banyak warga Kurdi di seluruh negeri, tanpa memberikan informasi apa pun tentang kejahatan yang dituduhkan kepada mereka atau keberadaan mereka kepada keluarga mereka.

Setelah Perang 12 Hari di mana Israel dan, pada akhirnya, Amerika Serikat menghancurkan situs militer dan nuklir Iran, sekali lagi warga Kurdi Iran yang menjadi sasaran secara tidak proporsional atas tuduhan "spionase dan kolaborasi" dengan Israel, demikian dikutip dari situs Lembaga Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika (JINSA).

Kedua alasan itu masih berlaku hingga sekarang. Bahkan, protes di Grand Bazaar Teheran pada 28 Desember 2025, dengan cepat menyebar ke wilayah Kurdi. Dan orang Kurdi sudah membayar harga yang tidak proporsional. Menurut Reuters , bentrokan paling intens dan angka korban jiwa tertinggi telah tercatat di provinsi-provinsi barat Iran, tempat populasi Kurdi di negara itu terkonsentrasi secara besar-besaran.

Sejauh ini, lembaga pemantau hak asasi manusia Hengaw telah melaporkan 77 penangkapan baru, di mana 45 tahanan adalah orang Kurdi, dan 27 kematian warga sipil, di mana 17 di antaranya adalah orang Kurdi.

Bahkan sebelum prote dan perang dimulai, partai-partai politik Kurdi di Iran telah secara nyata meningkatkan aktivitas mereka, baik di lapangan maupun dalam upaya diplomasi di luar negeri. Hal ini mencerminkan tidak hanya meningkatnya kemarahan rakyat di wilayah Kurdi, tetapi juga perhitungan bahwa momen kelemahan rezim saat ini dapat memberikan peluang untuk tekanan yang berkelanjutan.


Diandalkan Trump

Popularitas pemimpin Kurdi, Bafel Talabani, meningkat di mata Trump karena caranya meredakan kerusuhan di Suriah beberapa tahun lalu. Axios melaporkan, kelompok-kelompok Kurdi mulai mempersiapkan perang sebelum AS menyerang Iran. Kurdi Irak dan Iran membentuk Koalisi Kekuatan Politik Kurdistan Iran untuk melawan Iran.

Presiden Trump pernah menelepon Talabani dan pemimpin kurdi lain, Masoud Barzani, untuk membahas perang AS-Israel dengan Iran.

Sumber-sumber yang dikutip Axios mengatakan bahwa faksi-faksi Kurdi Iran mengirim pejuang dari Irak ke Iran untuk mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap rezim tersebut .

Konflik yang sejak lama, bahkan sejak era Shah Iran Pahlavi, yang terus berjalan tanpa penyelesaian damai membuat para pejuang Kurdi kini mulai "membantu" Amerika.

(imf/bac)

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya