Sepupu Blak-blakan Ogah Pilih Partai Netanyahu di Pemilu Israel

46 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sepupu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Nathan Netanyahu, enggan memilih Partai Likud dalam pemilihan umum (Pemilu) yang digelar hari ini, Selasa (27/10).

Nathan menyampaikan pernyataan itu dalam surat yang diunggah di X pada Selasa dini hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah bertahun-tahun menjadi anggota Likud, saya memutuskan untuk tak memilih partai tersebut dalam Pemilu besok," kata dia.

Nathan merupakan anggota lama partai Likud sekaligus profesor ilmu komputer yang fokus dalam akal imitasi (AI) di Universitas Bar Illan, Ramat Gen, Israel.

Melalui surat itu, Nathan memutuskan untuk mengakhiri keanggotaan Likud karena pemimpinnya, Netanyahu, tak lagi selaras dengan nilai partai.

Dia lalu mengungkapkan alasan ogah memilih Likud. Menurut Nathan, partai tersebut sudah meninggalkan nilai-nilai aslinya dan para pemimpin telah menimbulkan perpecahan nasional yang mendalam di Israel.

Lebih lanjut, Nathan mengatakan pemerintah Israel melakukan empat dosa di ranah moral publik yang menunjukkan pemerintah tak lagi dipercaya.

Keempat kejahatan itu adalah kudeta reformasi peradilan, peristiwa 7 Oktober 2023 yang menghancurkan persepsi keamanan Israel, kegagalan mendukung warga, dan penolakan memikul tanggung jawab.

"Pemerintah sudah berulang kali diwanti-wanti, tapi terlepas dari peringatan itu, pemerintah terus melanjutkan serangan predator ke unsur-unsur demokrasi bahkan di tengah perang," kata dia di surat tersebut, dikutip Jerusalem Post.

Di bawah reformasi hukum, lanjut Nathan, pemerintah Israel berupaya memusatkan kekuasaan yang hampir tak terbatas di tangannya, mengosongkan mekanisme kontrol, dan membuka jalan pemerintah dengan karakter diktator.

Pro-kontra reformasi peradilan, menurut dia, benar-benar memecah belah negara.

"Masyarakat terpecah dari dalam, kohesi nasional hancur, dan pejabat keamanan senior memperingatkan bahaya keamanan," lanjut Nathan.

Di surat tersebut, dia juga menyinggung peristiwa 7 Oktober 2023 dan cara pemerintahan Netanyahu menanganinya jadi alasan enggan memilih Likud.

[Gambas:Video CNN]

"Pada 7 Oktober, konsep membendung Hamas, yang sudah dipimpin perdana menteri selama bertahun-tahun, dengan tujuan membeli perdamaian melalui dana dari Qatar dan konsensi ekonomi, hancur berantakan."

Bagi dia, serangan dadakan Hamas adalah "kegagalan besar pemerintah Israel saat ini,"

Sejak saat itu, Israel terjebak dalam kampanye di beberapa front yang berkelanjutan dan tanpa akhir yang jelas.

"Kedudukan internasional [Israel] merosot ke titik terendah, dan propagandanya gagal dalam pertempuran opini publik global," ujar Nathan.

Selain itu, pemerintah juga dianggap tak mendukung warganya. Setelah peristiwa 7 Oktober, Netanyahu justru sibuk melenyapkan Hamas tapi lupa menyediakan bantuan bagi warga yang terdampak.

Bantuan itu justru muncul dari sukarelawan sesama warga, yang seharusnya bisa diisi pemerintah.

"Rakyat biasa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pemerintah secara otomatis," kata Nathan.

Di kesempatan itu, Nathan juga mempertanyakan apakah negara perlu membentuk komisi penyelidikan terkait peristiwa 7 Oktober.

"Dengan perdana menteri kita, tanggung jawab selalu dibebankan ke orang lain," kata dia.

"Ekspresi paling serius dari hal ini adalah penolakan untuk membentuk komisi penyelidikan nasional," imbuh Nathan.

Komite semacam itu padahal bakal mendapat dukungan publik yang sangat luas, tetapi Netanyahu tak membentuknya.

"Tanggung jawab pemerintah tak bergantung ke kesalahan kriminal, tetapi perlu pertanggungjawaban ke publik," demikian menurut Nathan.

(isa/rds)

Baca Artikel Selengkapnya