REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Turki bergerak memperkuat lapisan pertahanan jarak sangat dekat menghadapi ancaman drone FPV. Setelah diperkenalkan kepada publik pada MUSIAD EXPO 2026 di Istanbul pada 23–26 September, sistem baru bernama Drone Kalkanı kini diarahkan menuju kesiapan operasional dan produksi serial sebelum akhir 2026.
Drone Kalkanı berbeda dari sistem anti-drone yang bergantung pada rudal atau pengacau sinyal elektronik. Sistem ini menggunakan dua senapan semiotomatis Derya MAX kaliber 12 yang dipasang berdampingan pada turret untuk secara fisik menghancurkan drone yang telah mendekati kendaraan, kapal, instalasi militer, atau fasilitas penting.
General Manager Turac Fatih Altunbas mengatakan tim pengembang telah menyelesaikan prototipe dan masih meningkatkan kecepatan serta kemampuan sistem. Kepada Anadolu Agency, ia mengatakan Drone Kalkanı ditargetkan siap menjalankan tugas dan memasuki produksi serial sebelum akhir tahun.
Target itu menjadi perkembangan penting karena Drone Kalkanı dirancang menjawab salah satu perubahan besar dalam perang drone: munculnya FPV yang dikendalikan melalui kabel serat optik. Drone jenis ini tidak mengandalkan sambungan radio antara operator dan wahana sehingga jammer frekuensi konvensional tidak dapat memutus jalur kendalinya seperti pada FPV berbasis radio.
Anadolu melaporkan meluasnya penggunaan FPV dan drone kamikaze dalam perang Rusia-Ukraina telah meningkatkan kebutuhan terhadap solusi penghancuran fisik atau hard kill yang relatif murah. Perubahan itu semakin terasa setelah drone FPV berbasis serat optik mulai digunakan di medan perang.
“Ketika kabel serat optik dipasang pada drone, semuanya berubah,” kata Altunbas kepada Anadolu. Ia menjelaskan, meskipun sejumlah metode pengacauan elektronik digunakan, operator drone berbasis serat optik masih dapat mempertahankan kendali visual terhadap wahana menuju sasarannya.
Karena itulah Drone Kalkanı tidak mencoba merebut atau memutus koneksi drone. Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi, mengikuti, mengarahkan turret, lalu menghancurkan sasaran menggunakan proyektil.
Dua Senapan Menembak Bersamaan
Jantung sistem itu adalah dua Derya MAX kaliber 12 yang bekerja secara bersamaan di atas turret pan-tilt. Derya Arms mengonfirmasi pada 23 September bahwa MAX dipilih sebagai senjata kinetik Drone Kalkanı dan sistem tersebut memang dirancang khusus sebagai pertahanan jarak dekat terhadap mini-drone, FPV, serta drone serat optik.
Menurut Anadolu, turret dilengkapi paket sensor elektro-optik dan sensor akustik dari Lasersan. Data dari sensor tersebut diproses menggunakan algoritma berbasis kecerdasan buatan untuk melakukan deteksi, klasifikasi, pelacakan sasaran, dan menghitung solusi penembakan.
Pengembang menyebut sistem dapat memperoleh dan mengikuti sasaran pada jarak sekitar 600 hingga 800 meter. Setelah drone memasuki jarak sekitar 150 meter, kedua senapan dapat melepaskan tembakan secara bersamaan sehingga membentuk pola proyektil padat di jalur terbang target.
Amunisi khusus Sterling 12 gauge magnum yang dikembangkan Turaç menjadi bagian penting konsep tersebut. Altunbaş mengatakan perusahaan telah mengembangkan amunisi berbasis tungsten yang diklaim mampu membentuk “awan logam” berdiameter sekitar dua meter pada jarak sekitar 140 meter.
Angka tersebut merupakan klaim pengembang berdasarkan pengujian sistem dan amunisinya. Kinerja operasional di medan perang nyata tetap dapat dipengaruhi kecepatan sasaran, arah terbang, cuaca, kemampuan sensor, konfigurasi amunisi, serta jumlah drone yang datang secara bersamaan.
Senapan Derya MAX dalam konfigurasi Drone Kalkanı menggunakan mekanisme gas dengan chamber 76 milimeter atau tiga inci. Anadolu menyebut konfigurasi sistem menggunakan magasin berkapasitas 10 atau 15 butir sehingga memungkinkan tembakan lanjutan apabila lebih dari satu drone mendekat secara berurutan.

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·