Yogyakarta, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyoroti krisis identitas dan perubahan perilaku beragama generasi muda di tengah dominasi media digital. Kondisi tersebut menuntut NU memperbarui strategi dakwah, memperkuat peran keluarga, dan membangun pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
Persoalan itu mengemuka dalam seminar Pra-Konferensi Wilayah (Konferwil) Ke-16 bertajuk Merawat Ketahanan NU: Realitas Identitas dan Masa Depan di Aula PWNU DIY, Yogyakarta, Ahad (25/10/2026).
Sekretaris PWNU DIY, H Muhajir, menekankan perlunya pembaruan cara ber-NU, khususnya dalam merangkul generasi muda. Menurutnya, NU perlu menjaga tradisi intelektual, kemandirian, serta keberanian menyampaikan kritik demi kepentingan masyarakat.
“NU perlu meremajakan kembali cara ber-NU Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Cara ber-NU terus berubah, terutama di kalangan anak-anak muda,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Selasa (27/10/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, KH Hilmy Muhammad atau Gus Hilmy, menyoroti besarnya tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah dominasi media digital.
“Dalam catatan kami, sekitar 75 juta penduduk Indonesia atau 52,6 persen disebut berasal dari generasi Z, dengan perhitungan yang merujuk pada populasi 288,3 juta jiwa serta kategori generasi Z dan milenial,” tuturnya.
Gus Hilmy menegaskan, persoalan anak muda tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tetapi juga tekanan ekonomi, kesehatan mental, dan penggunaan gawai secara berlebihan. Kebiasaan menggunakan gawai selama tujuh hingga delapan jam sehari, bahkan hingga 20 jam dalam kasus tertentu, menjadi perhatian.
“Ini bukan masalah kecerdasan. Paparan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi standar hidup anak muda, memicu krisis identitas, dan mendorong perilaku fear of missing out (FOMO),” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Nyai Alissa Qotrunnada Wahid, menekankan pentingnya pembenahan tata kelola organisasi agar kehadiran NU benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keluarga, perempuan, dan pendidikan merupakan bidang strategis untuk memperkuat ketahanan NU.
“Penguatan tersebut perlu ditopang pilar umum berupa ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, serta pilar keagamaan yang mencakup bimbingan rumah tangga, ekonomi keluarga, dan pemberdayaan perempuan. Langkah ini diharapkan memperkuat kesejahteraan keluarga sekaligus hubungan antara jam’iyah dan jamaah,” tegasnya.
Senada dengan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Fahmy Akbar Idries, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan politik warga NU dengan menjadikan pedoman berpolitik sebagai rujukan.
“Prinsip kebebasan yang bertanggung jawab, persaudaraan, dan musyawarah perlu terus dirawat agar sikap politik NU tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Wakil Katib Syuriyah PWNU DIY, H Fathorrahman Ghufron, menegaskan perlunya strategi dakwah yang sesuai dengan karakter generasi muda. Menurutnya, kehadiran NU di ruang digital penting untuk menjangkau anak muda yang semakin jauh dari organisasi keagamaan.
“Harus ada perubahan strategi agar masyarakat, baik offline maupun online, merasa nyaman dengan NU,” jelasnya.
Fathorrahman mengatakan, penguatan konten di TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya perlu dilakukan untuk menjangkau generasi muda. Pelibatan kader dan kiai sesuai bidang keahlian masing-masing juga dinilai dapat membantu menjawab persoalan sosial sekaligus memperkuat ketahanan ideologi.
Ia berharap seminar tersebut menghasilkan rekomendasi strategis bagi penguatan organisasi. Hasil diskusi akan menjadi bahan penyusunan arah kebijakan dan program PWNU DIY dalam Konferwil Ke-16 yang dijadwalkan berlangsung pada 16 Januari 2027 di Pesantren Al Miftah, Nanggulan, Kulon Progo, DIY.

2 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·