Jombang, NU Online
Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) menggelar Seminar Nasional dan Bahtsul Masail Muslimat NU di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Jombang, Jum'at (28/8/2026) pagi.
Kegiatan yang dihadiri 82 profesor yang tergabung dalam APMNU serta jajaran Muslimat NU dari berbagai wilayah Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua APMNU, Prof Amany Lubis menegaskan keberadaan profesor perempuan dari berbagai wilayah di Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa, khususnya melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Mudah-mudahan keanggotaan di APMNU bisa memberi nilai positif yang banyak kepada bangsa Indonesia dalam mengembangkan keilmuan dan juga pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.
Meskipun saat ini kepengurusan APMNU telah memiliki perwakilan di hampir seluruh provinsi. Sejumlah wilayah masih belum memiliki keterwakilan, sehingga penguatan kapasitas perempuan Muslimat NU di berbagai daerah akan terus didorong.
"Penguatan perlindungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari upaya wujudkan generasi melek digital, membangun keluarga yang kuat dan tangguh atau ketahanan keluarga," terangnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam seminar adalah pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Persoalan ini perlu mendapatkan perhatian serius karena lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman bagi anak-anak dan generasi muda untuk belajar serta berkembang.
Pada tahun 2025, lembaga pendidik menjadi lembaga yang belum aman terhadap kekerasan. Berdasarkan datanya, terdapat 97 pengaduan terkait hal itu.
“Melalui seminar nasional tersebut diharapkan bisa memperkuat peran akademisi dan profesor perempuan NU dalam merumuskan gagasan serta solusi terhadap berbagai persoalan aktual,” jelasnya
Selain itu, kolaborasi antara kalangan akademisi, pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan perkembangan teknologi dan perubahan sosial tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai kemanusiaan dan perlindungan generasi muda.
APMNU juga mendorong pengembangan pemikiran Islam yang otentik dan bersifat wasatiyah. Pemikiran tersebut diharapkan tetap berpegang pada tradisi, namun tidak terjebak pada romantisme masa lalu dan tetap terbuka terhadap perkembangan modern tanpa meninggalkan nilai spiritualitas.
“Kita tetap berpegang pada tradisi dan tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga terbuka terhadap kemajuan modern sekarang ini dengan tidak meninggalkan spiritualitas,” tegasnya.
Dalam Seminar Nasional tersebut, APMNU memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan teknologi digital secara cerdas dan bijaksana. Kemampuan menggunakan teknologi harus dibangun sejak lingkungan keluarga.
“Anak-anak perlu didampingi agar mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif, bukan justru terpapar konten yang merusak perkembangan mereka,” kata Hj Amany.
“Gawai itu juga menjadi pemicu kekerasan seksual, misalnya secara verbal. Anak-anak mendengar dari main game dan langsung dipraktikkan,” imbuhnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, peran orang tua sangatlah penting untuk mengawasi aktivitas mereka dengan gawainya. Misalnya dengan membatasi penggunaan aplikasi.
“Atau bisa juga dengan orang tua menyambungkan akun hp si anak dengan hpnya. Jadi orang tua bisa langsung mengawasi aplikasi apa saja yang sudah di download,” pungkasnya.
Kontributor: Siti Ratna Sari

1 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·