Jakarta, NU Online
Sejumlah perempuan di Teheran, Iran, mengikuti pelatihan militer dasar sebagai bagian dari program mobilisasi nasional untuk memperkuat pertahanan negara.
Pada Ahad (27/9/2026), sebuah video dari Reuters merekam berbagai pelatihan intensif tersebut. Terlihat dari rekaman, para peserta berkumpul dan menjalani serangkaian materi di Pusat Janfada, Teheran. Dalam program tersebut, para relawan tidak hanya menerima pembekalan teori, tetapi juga simulasi praktis seperti latihan penembakan dan penanganan situasi darurat di bawah pengawasan langsung personel militer berpengalaman.
Inisiatif pelatihan sipil tersebut merupakan bagian integral dari kampanye Janfada atau The Fortified Iran, sebuah gerakan nasional yang diluncurkan pasca-eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada awal tahun 2026. Para relawan perempuan menegaskan keberadaan mereka dalam pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi krisis serta memberikan kontribusi nyata bagi keamanan nasional.
Melansir Wion, pelatihan tersebut merupakan kursus pelatihan militer pertama yang secara khusus diselenggarakan untuk perempuan.
Juru bicara kampanye Relawan Rela Berkorban Sasan Zare mengatakan bahwa pelatihan tersebut berlangsung di Lapangan Imam Hossein di Teheran yang juga diikuti oleh beberapa warga AS.
"Di Lapangan Imam Hossein, ada beberapa individu yang merupakan warga negara AS. Mereka telah datang ke Iran dan bersedia berdiri bahu-membahu dengan rakyat Iran dan melawan Amerika Serikat," ungkapnya, dikutip NU Online dari WION.
"Saat ini, kami menerima banyak permintaan dari warga negara asing yang tinggal di negara ini, yang meminta izin untuk menjalani pelatihan, mengangkat senjata, dan melawan musuh-musuh negeri ini," lanjut Sasan.
Para pejabat dan instruktur berusaha mengajarkan cara menangani dan menembak senjata, termasuk senapan dan pistol, serta pelatihan untuk menanggapi keadaan darurat dan situasi krisis.
Kesiapan mental dan keterampilan menjadi fokus utama para peserta saat mengikuti pelatihan. Raheleh Ghadiri, seorang peserta berusia 45 tahun, mengaku bahwa ia mempelajari seluruh teknik yang dapat berguna untuk membela keluarga dan lingkungannya, mulai dari pelatihan senjata dan bidang lainnya hingga kesiapan mental selama masa perang.
Melansir Media Iran Tasnim News, Pusat Janfada didedikasikan untuk melatih relawan dalam keterampilan militer. Program tersebut diresmikan di Teheran pada tanggal 23 September di hadapan Komandan Pasukan Basij Hojjatoleslam Hossein Taeb.
Program pelatihan sipil tersebut menyusul kampanye mobilisasi awal di mana Iran menyerukan para sukarelawan untuk bersiap membela negara. Hal tersebut terjadi sehari setelah Iran membuka pusat pelatihan militer sipil lainnya di Lapangan Haft-e Tir. Pada bulan September, ratusan ribu orang dilaporkan telah berpartisipasi dalam demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah di Teheran yang terkait dengan kampanye "Janfada-ye Iran", sebagaimana yang dilaporkan WION.
Sejak diluncurkan, penyelenggara mengklaim program Janfada telah menarik antusiasme publik dengan menghimpun sekitar 31 juta pendaftar di seluruh negeri, 32 persen di antaranya merupakan peserta perempuan.
Meski demikian, keterlibatan para relawan perempuan tidak terbatas pada sektor militer atau keamanan fisik semata. Sebagian pendaftar disiapkan untuk mengambil peran non-tempur, seperti operasi penyelamatan darurat, layanan sosial, kegiatan budaya, hingga dukungan logistik dan keuangan.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah dan otoritas terkait terus memperluas program pelatihan sipil tersebut di wilayah Teheran. Media lokal Iran melaporkan adanya rencana pembentukan sekitar 1.000 unit resistensi nasional yang dirancang khusus untuk membekali para relawan dengan keterampilan militer dan kemampuan tanggap darurat yang tangguh.

8 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·