Jakarta, CNN Indonesia --
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) meminta dukungan Mesir untuk menghadapi meningkatnya serangan kelompok Houthi Yaman terhadap pelayaran dan infrastruktur Saudi. Hal ini mendorong lonjakan harga minyak global.
Permintaan itu disampaikan MbS saat bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo pada Selasa (15/9). Dalam pernyataan bersama, MbS dan Sisi menegaskan "komitmen bersama mereka untuk memastikan kebebasan dan keamanan navigasi maritim" di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Kantor Sisi juga menyatakan "posisi Mesir yang teguh dalam mendukung Arab Saudi," seperti dilaporkan NBC News. Namun, kedua negara tidak menjelaskan secara rinci bentuk dukungan atau langkah selanjutnya yang akan diambil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Saudi menghadapi peningkatan serangan Houthi yang didukung Iran. Dalam sepekan terakhir, kelompok tersebut dilaporkan merebut lebih banyak wilayah di Yaman dan memperkuat posisi mereka di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi disebut merebut pelabuhan Mokha di Laut Merah serta tiga pulau strategis di dalam dan sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Selat tersebut menjadi jalur penting karena menghubungkan Laut Merah dengan samudra terbuka. Jalur ini juga menjadi salah satu rute menuju pasar minyak utama Saudi di Asia.
Houthi telah menyerang pelayaran Saudi sejak akhir Juli. Jika kelompok tersebut mampu mengganggu atau menutup Selat Bab el-Mandeb, ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah dapat ikut terdampak.
Kerentanan produksi minyak Saudi juga meningkat setelah serangan beberapa hari sebelumnya merusak jalur pipa minyak terbesar negara tersebut. Serangan itu dilaporkan dilakukan oleh Houthi.
Jalur Pipa Timur-Barat diperkirakan harus ditutup sebagian besar selama beberapa pekan untuk menjalani perbaikan, kata para pejabat regional. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak ke pasar global hingga beberapa juta barel per hari.
Di tengah situasi tersebut, Saudi sejauh ini disebut enggan melancarkan operasi militer besar terhadap Houthi. Saudi khawatir serangan besar dapat memicu serangan balasan terhadap infrastruktur minyaknya dan kembali menyeret Saudi ke dalam perang saudara di Yaman.
Saudi kini menghadapi pilihan antara meningkatkan respons militer atau mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Mesir kemungkinan tidak akan mengirim bantuan militer secara langsung kepada Saudi. Namun, Kairo memiliki pengaruh besar di dunia Arab dan dapat membantu menggalang dukungan bagi kerajaan tersebut.
Mesir juga selama tiga tahun terakhir menjadi salah satu pusat upaya mediasi konflik di kawasan. Kairo mempertahankan hubungan dengan berbagai pihak, termasuk Iran dan kelompok yang bersekutu dengannya.
Di sisi lain, Mesir juga terdampak langsung oleh serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah.
Serangan Houthi selama perang Gaza menyebabkan lalu lintas kapal melalui Terusan Suez menurun. Kondisi tersebut berdampak terhadap pendapatan Mesir dari salah satu jalur perdagangan terpenting dunia.
Selama konflik Iran, Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Sebagian pengiriman kemudian melewati Terusan Suez atau menggunakan jaringan pipa Mesir yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.
Namun, penutupan Jalur Pipa Timur-Barat Saudi berpotensi mengurangi atau bahkan menghentikan pengiriman tersebut selama beberapa pekan.
Sementara itu, Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Selasa (15/9) bahwa pasukan pemerintah Yaman sedang berkumpul kembali dan berupaya merebut kembali kendali wilayah.
Al-Saadi juga mendesak agar embargo senjata PBB terhadap Houthi diberlakukan dan Dewan Keamanan mengutuk eskalasi konflik tersebut.
"Apakah komunitas internasional akan menerima jika salah satu gerbang terpenting dunia untuk perdagangan dan energi menjadi alat pemerasan di tangan kelompok teroris transnasional?" kata Al-Saadi.
Dukungan yang dapat diberikan Mesir kepada Saudi tetap memiliki batasan. Analis HA Hellyer menilai Mohammed bin Salman kemungkinan tidak mengharapkan Mesir mengirim pasukan untuk membantu menghadapi Houthi.
"Saya rasa MbS tidak menginginkan pasukan dari Kairo, yang dia tahu akan menjadi permintaan yang sangat sulit," kata Hellyer, menggunakan inisial Mohammed bin Salman.
Lebih lanjut, sekutu utama Saudi, Amerika Serikat, sulit diprediksi dan terkadang tidak dapat diandalkan dalam menghadapi konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump tampaknya enggan memperluas perang yang tidak populer menjelang pemilihan Kongres.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) yang sebelumnya menjadi bagian dari koalisi pimpinan Saudi melawan Houthi telah menarik diri dari konflik. UEA mengambil langkah tersebut setelah terjadi perselisihan antara sekutunya di Yaman dan Saudi.
(mge/dna)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·