REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Tiga orang meninggal dan 36 lainnya terluka dalam dua serangan yang menyasar bandara di Riyadh dan Abha, Arab Saudi pada Rabu (7/10/2026). Kelompok Houthi disebut berada di balik serangan tersebut.
Alarabiya melaporkanhal itu disampaikan oleh Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) Arab Saudi pada Rabu. GACA menyatakan bahwa Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan terpisah pada hari Selasa dan Rabu, yang memicu otoritas penerbangan serta instansi terkait lainnya untuk mengaktifkan prosedur darurat yang telah ditetapkan.
Di Bandara Abha, dua orang penduduk—seorang wanita berkebangsaan Maroko dan seorang wanita berkebangsaan Aljazair—tewas, sementara 28 warga negara dan penduduk Arab Saudi mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari luka ringan hingga serius.
Di Bandara Internasional King Khalid, seorang penduduk berkebangsaan Sudan tewas dan delapan orang lainnya terluka.
Korban luka di Riyadh mencakup lima warga negara Arab Saudi, dua penduduk berkebangsaan Mesir, dan satu penduduk berkebangsaan Pakistan; kondisi mereka juga bervariasi, mulai dari luka ringan hingga serius.
Seluruh korban luka akibat kedua serangan tersebut segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, ungkap GACA.
Serangan-serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan materi, tambah pihak otoritas, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai tingkat kerusakan yang terjadi.
GACA menyatakan pihaknya sedang berkoordinasi dengan otoritas keamanan terkait untuk menilai kerusakan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjamin keselamatan penumpang serta karyawan bandara, sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan sistem penerbangan sipil Arab Saudi.
Kematian ini adalah korban sipil perdana di Saudi menyusul eskalasi terkini dengan kelompok Houthi di Yaman. Sebelum eskalasi belakangan, perang yang dilancarkan koalisi yang dipimpin Saudi untuk mendukung rezim terdahulu menewaskan sekitar 15.000 warga sipil sejak 2015 lalu, merujuk perkiraan PBB.
Sementara kelompok Ansarallah Houthi mengklaim telah menargetkan 11 titik konsentrasi pasukan Saudi dengan rudal balistik dan menghantam sebuah unit yang berafiliasi dengan apa yang disebut sebagai Brigade Raksasa ke-13. Hal itu diumumkan oleh juru bicara militer Houthi Brigadir Jenderal Yahya Saree pada hari Rabu.
Saree menyatakan bahwa operasi tersebut menyasar pasukan yang didukung Saudi di selatan Bab al-Mandab, serta di wilayah Al-Saqiya, Ras al-Ara, dan Al-Mudharaba; serangan itu mengakibatkan puluhan orang tewas dan terluka—termasuk sejumlah komandan—serta menghancurkan kendaraan-kendaraan militer.
Ia juga menyebutkan adanya serangan rudal balistik yang menargetkan sebuah kompi yang berafiliasi dengan Brigade Raksasa ke-13 tersebut, unit yang menurutnya telah melindas para tawanan. Saree menekankan akurasi serangan itu, yang menyebabkan lebih dari 30 orang tewas dan terluka.
Dalam pernyataan terpisah, Saree mengatakan bahwa pesawat tempur Saudi melancarkan 156 serangan udara dan serangan rudal terhadap Yaman selama 24 jam terakhir, sehingga total serangan Saudi sejak eskalasi dimulai mencapai 1.798 kali.
Agresi Saudi tersebut menyasar lokasi-lokasi sipil di Sanaa serta kegubernuran Taiz, Saada, Al-Jawf, Marib, dan Amran, tambahnya. Menurut Saree, jet tempur F-15 dan Typhoon milik Arab Saudi lepas landas dari pangkalan di Khamis Mushait dan Taif, sementara serangan rudal diluncurkan dari Najran dan Jizan.
Kepala biro Al Mayadeen di Yaman lebih lanjut melaporkan bahwa pesawat-pesawat Saudi juga melancarkan sejumlah serangan di berbagai wilayah, dengan fokus pada jaringan komunikasi.

45 menit yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·