Saudi Dihajar Krisis usai Jalur Pipa Minyak Tutup imbas Serangan

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi mulai tercekik imbas perang Amerika Serikat vs Iran yang telah berlangsung sejak Februari lalu dan mengganggu Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia.

Jalur pipa minyak yang sebelumnya menguntungkan Saudi kini tak bisa diandalkan karena kelompok milisi Houthi Yaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat awal konflik, Riyadh terhindar dari dampak serangan Iran, bahkan diuntungkan oleh harga minyak mentah yang melambung karena menggunakan jalur pipa di darat sebagai alternatif pengiriman minyak atas ditutupnya Selat Hormuz.

Namun, semua berubah ketika Houthi mulai menembaki Saudi nyaris setiap hari bulan ini.

Serangan bertubi-tubi tersebut telah menyebabkan korban luka serta kerusakan material hingga Riyadh terpaksa menutup jalur pipanya sebagai langkah pencegahan.

Jalur pipa minyak Saudi terbentang di daratan sekitar 1.200 kilometer dari Abqaiq, wilayah timur penghasil minyak, ke Yanbu, wilayah barat pesisir Laut Merah.

Jalur ini dibuat dengan tujuan membawa minyak Saudi ke Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Sejak AS-Israel menyerang Iran pada Februari, Teheran memblokade Selat Hormuz sebagai balasan.

Penutupan jalur air vital tersebut telah menyebabkan harga minyak dunia berulang kali meroket dan mendorong Saudi menggunakan jalur pipa daratannya sebagai substitusi.

Pada Jumat (11/9), Kementerian Energi Saudi mengumumkan bahwa jalur pipa tersebut kini ditutup buntut serangan Houthi.

Kondisi ini mengancam dan mempersulit rencana diversifikasi ekonomi kerajaan yang bernilai triliunan dolar. Situasi ini juga terjadi beberapa minggu sebelum konferensi investasi utama di Riyadh yang akan menampilkan CEO JPMorgan Chase & Co., Jamie Dimon, dan David Solomon dari Goldman Sachs Group Inc.

Otoritas Inggris cemas penutupan jalur pipa Saudi akan berlangsung selama lebih dari sebulan. Jika benar demikian, hal ini akan mendorong kenaikan harga bahan bakar global dan menambah tekanan inflasi, menurut beberapa pejabat senior Eropa.

Bagi Arab Saudi, kondisi ini berpotensi menghilangkan pendapatan ekspor senilai puluhan miliar dolar.

"Arab Saudi menghadapi tekanan yang semakin meningkat, yang belum pernah terjadi sejak Mohammed bin Salman (MbS) naik ke tampuk kekuasaan," kata Tarik Yousef, peneliti senior di Middle East Council on Global Affairs.

"Konvergensi tekanan ekonomi yang membayangi dan risiko geopolitik yang meningkat ini pasti menciptakan rasa urgensi. Mereka harus mengambil keputusan-keputusan besar," lanjutnya.

Ancaman yang dihadapi Saudi saat ini bukan cuma dampak penutupan jalur pipa timur-baratnya, tetapi juga gangguan Houthi di Selat Bab el Mandeb. Kelompok milisi Yaman tersebut telah mengetatkan kendalinya di selat yang sama vitalnya dengan Hormuz itu.

Gangguan di Bab el Mandeb semakin mempersulit Saudi membawa minyak-minyaknya keluar ke Eropa dan Asia.

Arab Saudi memiliki banyak cadangan untuk membantu perekonomiannya, terutama aset dana kekayaan negara dan cadangan devisa yang berjumlah sekitar US$1,4 triliun. Negara ini mampu dengan mudah memperoleh pinjaman di pasar internasional tahun ini, sehingga menarik banyak permintaan.

Namun demikian, obligasi dolar pemerintah termasuk yang berkinerja terburuk di pasar negara berkembang bulan ini.

Serangan-serangan di Saudi berisiko merusak upayanya menarik investasi asing senilai miliaran dolar di berbagai bidang, mulai dari pusat data hingga industri energi dan kendaraan listrik.

Kepala ekonom di Abu Dhabi Commercial Bank, Monica Malik, memperkirakan ekonomi Saudi akan mengalami kontraksi sebesar 3,1 persen tahun ini.

Penurunan ini bisa semakin dalam hingga 4,5 persen, lebih buruk daripada puncak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, jika jalur pipa ditutup selama sebulan dan pemerintah tidak bisa mengirimkan volume minyak yang signifikan.

"Perkembangan terkini cukup buruk secara ekonomi dan geopolitik bagi Arab Saudi," kata mantan kepala misi Dana Moneter Internasional untuk Saudi, Tim Callen.

"Pertumbuhan akan jauh lebih rendah," tambahnya.

Konflik Timur Tengah ini akan menguji kemampuan MbS dalam meyakinkan sekutu agar membantunya menghadapi Houthi.

Sejauh ini, MbS telah meminta bantuan militer terhadap Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham. Namun, keduanya belum menyatakan kesediaan untuk membantu.

Menurut penilaian beberapa militer Eropa Barat, tak ada jaminan Saudi akan berhasil meskipun memilih opsi ofensif terhadap Houthi.

Riyadh dan pasukan yang mereka dukung di Yaman saat ini saja belum berhasil mengalahkan Houthi di Sanaa.

(blq/rds)

Baca Artikel Selengkapnya