Yogyakarta, NU Online
Anggota Badan Pengembangan Inovasi Strategis PBNU, Robin Syihab, menilai santri memiliki peran strategis dalam menjaga kredibilitas informasi di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dapat menghasilkan konten meyakinkan, tetapi belum tentu benar.
Menurut Robin, kemudahan teknologi AI memungkinkan siapa pun membuat tulisan, video, suara, hingga kutipan keagamaan tanpa menjamin kejelasan sumber, kelengkapan konteks, dan pertanggungjawaban informasi.
“Santri tidak hanya diajarkan apa isi ilmunya, tetapi juga dari mana ilmu itu diperoleh, siapa gurunya, bagaimana konteksnya, dan bagaimana adab menyampaikannya,” ujar Robin.
Mengisi pelatihan dan lokakarya media bagi para santri di Aula Gedung MA Nurul Ummah, Ahad (18/10/2026), Robin menekankan pentingnya membawa tradisi sanad dan tanggung jawab keilmuan ke ruang digital. Menurutnya, santri perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan juga sebagai penjaga etika dalam pemanfaatannya.
Ia menjelaskan, algoritma media digital kerap mengutamakan konten yang memicu kemarahan, polarisasi, dan perdebatan karena berpotensi menghasilkan interaksi tinggi. Kondisi tersebut menuntut santri untuk menjaga agar dakwah tidak hanya berorientasi pada jangkauan audiens.
“Ketika algoritma cenderung mengutamakan kemarahan, polarisasi, dan konten yang ekstrem karena dianggap menghasilkan interaksi (trafik), santri perlu membawa koreksi, bahwa dakwah tidak boleh hanya mengejar jangkauan,” tandasnya.
Robin menegaskan, dakwah harus tetap mengedepankan kebenaran, kedamaian, martabat manusia, dan persatuan kebangsaan. Karena itu, penguasaan teknologi tidak berarti santri harus menolak AI, tetapi mampu memanfaatkannya tanpa menyerahkan nalar, otoritas keilmuan, dan tanggung jawab moral kepada mesin.
Menurut Robin, tradisi keilmuan pesantren menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Dalam menjawab persoalan keagamaan, misalnya, santri perlu mempertimbangkan sumber rujukan, perbedaan pandangan, konteks sosial, dan dampak jawaban yang disampaikan.
“Ada rujukan, ada perbedaan pandangan, ada konteks sosial, dan ada tanggung jawab terhadap dampak jawaban,” paparnya.
Kehati-hatian itu semakin diperlukan karena AI dapat menghasilkan jawaban yang tersusun rapi dan terdengar meyakinkan, tetapi mengandung kekeliruan. Teknologi tersebut juga berpotensi menghasilkan kutipan kitab, hadis, atau pendapat ulama yang tidak akurat.
“AI juga dapat membuat kutipan kitab, hadis, atau pendapat ulama yang tampak meyakinkan padahal salah,” kata dia.
Untuk menghadapi risiko tersebut, Robin menilai pelatihan media bagi santri perlu mencakup tiga aspek, yakni keterampilan teknis, literasi kritis, serta etika dan tanggung jawab.
Aspek keterampilan teknis meliputi penulisan, produksi video, desain, riset digital, pengelolaan media sosial, dan pemanfaatan AI. Sementara itu, literasi kritis mencakup kemampuan mengenali hoaks, bias algoritma, konten manipulatif, deepfake, sumber palsu, serta informasi keliru yang dihasilkan AI.
Adapun aspek etika dan tanggung jawab mencakup pemahaman mengenai batas penggunaan AI, pentingnya merujuk kepada guru atau ahli, pencantuman sumber, perlindungan data pribadi, serta tanggung jawab atas konten yang dipublikasikan.
“Saya kira latihan yang menarik adalah meminta santri membandingkan jawaban AI tentang isu fikih dengan rujukan kitab atau penjelasan kiai,” tuturnya.
Menurut Robin, latihan tersebut dapat membantu santri memahami bahwa jawaban yang cepat belum tentu benar dan penyampaian informasi tetap harus memperhatikan adab serta ketepatan rujukan.
Di sisi lain, ia melihat peluang bagi santri untuk berkiprah dalam berbagai bidang digital, mulai dari jurnalisme, produksi konten, penyuntingan, pengembangan produk digital, penelitian, pengelolaan media pesantren, hingga pengembangan sistem AI yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Namun, Robin menilai peluang strategis santri tidak sebatas pada kemampuan memproduksi konten secara cepat dengan bantuan teknologi. Santri juga berpotensi membangun ekosistem pengetahuan yang memiliki sumber jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Namun peluang paling strategis bukan di kecepatan pembuatan dengan AI. Santri bisa membangun ekosistem pengetahuan yang lebih dapat dipercaya,” imbuhnya.
Upaya tersebut, lanjutnya, dapat dilakukan melalui pengembangan arsip digital pesantren, produksi konten keislaman dengan rujukan yang jelas, layanan pemeriksaan fakta keagamaan, dokumentasi tradisi lokal, serta pengembangan produk AI yang tetap mempertahankan sumber dan otoritas keilmuan.
Robin menegaskan, penguatan kapasitas digital santri harus berjalan beriringan dengan pendalaman tradisi keilmuan, pembentukan etika, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
“Penguasaan teknologi diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga menjaga kualitas pengetahuan, nilai-nilai kepesantrenan, dan kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya.
Pelatihan tersebut diadakan sebagai rangkaian menyambut peringatan Hari Santri 2026, hasil sinergi antara NU Online, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Yogyakarta,

7 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·