REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prancis tengah menyiapkan persenjataan baru untuk memulihkan kemampuan angkatan udaranya menghadapi sistem pertahanan udara modern, termasuk ancaman yang ditimbulkan sistem S-400 buatan Rusia. Langkah tersebut dilakukan setelah militer Prancis mengakui telah meninggalkan kemampuan khusus penghancuran radar musuh sejak akhir 1990-an, sebuah keputusan yang kini dinilai menjadi kelemahan strategis di tengah meningkatnya risiko perang berintensitas tinggi di Eropa.
Perkembangan itu kembali menjadi sorotan setelah media Jerman FOCUS Online pada Kamis (22/10/2026) memberitakan rencana Angkatan Udara dan Antariksa Prancis menggunakan bom berpemandu jarak jauh AASM Hammer 250 XLR. Senjata yang dirancang memiliki jangkauan sekitar 140 kilometer tersebut diproyeksikan mulai digunakan pada 2028 sebagai solusi sementara sebelum Prancis memiliki rudal supersonik Stratus RS pada dekade berikutnya.
Sebelumnya, media khusus penerbangan militer The Aviationist pada 19 Oktober 2026 melaporkan bahwa Prancis berusaha mengembalikan kemampuan menyerang pertahanan udara musuh menggunakan senjata berpemandu dengan mesin jet berukuran kecil. Laporan tersebut merujuk pada pernyataan Kepala Staf Angkatan Udara dan Antariksa Prancis, Jenderal Jérôme Bellanger, dalam rapat dengar pendapat di Majelis Nasional Prancis pada 14 Oktober 2026.
Bellanger mengakui bahwa Prancis pernah memiliki kemampuan khusus untuk menekan dan menghancurkan pertahanan udara lawan menggunakan pesawat serang Jaguar dan rudal antiradar AS-37 Martel. Namun, kemampuan tersebut ditinggalkan pada akhir 1990-an dan tidak segera digantikan dengan sistem persenjataan khusus yang mempunyai fungsi serupa.
Menurut Bellanger, kemampuan menekan pertahanan udara musuh merupakan salah satu unsur penting dalam operasi pesawat tempur. Kebutuhan memulihkannya menjadi semakin mendesak karena keunggulan udara tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti dalam konflik bersenjata modern.
S-400 Rusia Masuk Perhitungan Ancaman
Sistem pertahanan udara S-400 Rusia menjadi salah satu contoh ancaman yang pernah dibahas secara khusus dalam kajian kebutuhan persenjataan Prancis. Persoalan tersebut muncul dalam pertanyaan tertulis anggota Majelis Nasional Prancis, Marc Chavent, kepada Kementerian Angkatan Bersenjata pada 3 Maret 2026.
Chavent menyoroti ketergantungan kemampuan militer Prancis terhadap dukungan Amerika Serikat dalam menghadapi jaringan pertahanan udara berlapis. Ia menggunakan contoh skenario yang melibatkan sistem S-400 Rusia dan pesawat peringatan dini atau Airborne Warning and Control System (AWACS) untuk menggambarkan kesulitan yang berpotensi dihadapi pesawat tempur Prancis.
Dalam pertanyaan tersebut, Chavent menyebut skenario yang menurutnya disimulasikan NATO, ketika kombinasi S-400 dan AWACS berpotensi mendeteksi serta melacak pesawat yang mendekat dari jarak lebih dari 400 kilometer. Namun, uraian itu merupakan skenario yang dikemukakan anggota parlemen, bukan hasil pengujian langsung yang membuktikan kemampuan setiap konfigurasi S-400 dalam seluruh situasi pertempuran.
S-400 Triumf merupakan sistem pertahanan udara jarak jauh Rusia yang dirancang menghadapi berbagai ancaman udara, termasuk pesawat tempur dan sejumlah jenis rudal. Dalam penggunaannya, sistem ini dapat menjadi bagian dari jaringan pertahanan berlapis yang melibatkan radar pengawasan, sistem komando, peluncur rudal, serta perangkat pendukung lainnya.
Keberadaan jaringan semacam itu dapat mempersulit operasi pesawat tempur karena ancaman datang dari berbagai arah dan jarak. Pesawat yang hendak menyerang sasaran di wilayah musuh juga harus mempertimbangkan kemampuan pengintaian, perang elektronik, serta kemungkinan keberadaan sistem pertahanan udara tambahan.
Pemerintah Prancis menanggapi pertanyaan Chavent melalui jawaban resmi yang dipublikasikan pada 7 Juli 2026. Kementerian Angkatan Bersenjata menyatakan Prancis telah memilih pengembangan kemampuan melalui proyek Stratus Rapid Strike atau Stratus RS untuk mengurangi ketergantungan pada persenjataan khusus Amerika Serikat.
Jawaban pemerintah tersebut menegaskan bahwa Stratus RS dirancang untuk menjalankan misi penindasan dan penghancuran pertahanan udara musuh dari jarak jauh. Sistem itu juga akan mempunyai fungsi antikapal dan direncanakan menjadi bagian dari persenjataan pesawat tempur Rafale generasi berikutnya.
Kehilangan Rudal Antiradar Hampir Tiga Dekade
Kesenjangan kemampuan militer Prancis bermula ketika rudal antiradar AS-37 Martel dihentikan penggunaannya pada akhir 1990-an. Laporan Komisi Pertahanan Majelis Nasional Prancis yang diterbitkan pada 29 Oktober 2025 menyebut kemampuan khusus tersebut telah ditinggalkan sejak 1997.
Rudal Martel sebelumnya menjadi bagian dari kemampuan perang elektronik ofensif Angkatan Udara Prancis bersama sejumlah perangkat pengacau radar dan sistem pengecoh elektromagnetik. Persenjataan tersebut digunakan untuk menghadapi radar pertahanan udara lawan sehingga pesawat tempur dapat melaksanakan operasi serangan dengan risiko lebih terkendali.
Kemampuan itu pernah digunakan dalam operasi militer sesungguhnya ketika Prancis menyerang instalasi radar Libya di Chad pada 1987. Menurut laporan parlemen Prancis, rudal Martel digunakan untuk menghancurkan radar pengawasan Flat Face di pangkalan udara Ouadi Doum.
Namun, berakhirnya Perang Dingin mendorong perubahan prioritas pertahanan Paris. Prancis kemudian lebih memusatkan perhatian pada kemampuan penangkal nuklir, operasi ekspedisioner, dan pengerahan kekuatan militer dalam konflik yang tidak selalu melibatkan sistem pertahanan udara modern dalam jumlah besar.
Keputusan tersebut meninggalkan kesenjangan dalam kemampuan yang dikenal sebagai Suppression of Enemy Air Defenses (SEAD) dan Destruction of Enemy Air Defenses (DEAD). Kedua jenis operasi itu bertujuan menekan, melumpuhkan, atau menghancurkan unsur pertahanan udara lawan agar pesawat tempur dapat memasuki wilayah yang sebelumnya terlalu berisiko untuk ditembus.
Meski demikian, Prancis tidak sepenuhnya kehilangan kemampuan menyerang instalasi pertahanan udara. Angkatan udaranya masih menggunakan rudal jelajah SCALP, bom berpemandu AASM Hammer, serta perangkat perang elektronik yang dapat mendukung operasi terhadap sasaran tersebut.
Persoalannya, persenjataan itu tidak secara khusus dirancang untuk memenuhi seluruh kebutuhan SEAD dan DEAD ketika menghadapi jaringan pertahanan udara yang kompleks. Karena itulah, Prancis kini berusaha membangun kembali kemampuan khusus yang dianggap semakin penting dalam peperangan modern.

1 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·