REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan energi kembali membayangi Eropa menjelang musim dingin. Rusia masih membatasi ekspor bahan bakar diesel ke sebagian besar pasar asing, pasokan dari Timur Tengah terganggu perang, sementara fasilitas penyimpanan gas Eropa hanya terisi sekitar 69 persen, jauh di bawah rata-rata musiman lima tahun sebesar 85 persen.
Kombinasi tersebut membuat persoalan energi Eropa tidak lagi sebatas kenaikan harga minyak mentah. Diesel yang menggerakkan truk, mesin pertanian dan industri semakin mahal, sedangkan gas yang menjadi salah satu penyangga utama kebutuhan pemanasan musim dingin belum tersimpan sebanyak biasanya.
Data Gas Infrastructure Europe (GIE) yang dikutip Reuters menunjukkan fasilitas penyimpanan gas Eropa terisi sekitar 69 persen pada pertengahan September 2026, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 85 persen untuk periode yang sama. Jerman dan Belanda, yang bersama-sama memiliki sekitar 35 persen kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa, termasuk negara yang tertinggal dalam pengisian kembali stok.
Harga energi yang tinggi menjadi salah satu penyebab perusahaan menunda pembelian gas dalam jumlah besar. Strategi tersebut sebelumnya didasarkan pada perkiraan perang Iran akan cepat berakhir dan harga energi akan kembali turun, tetapi asumsi itu semakin sulit dipertahankan.
Uni Eropa sebenarnya telah memperluas sumber pasokannya secara signifikan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun, guncangan baru menunjukkan diversifikasi tidak berarti Eropa kebal terhadap gangguan apabila beberapa pusat produksi dan jalur perdagangan mengalami masalah secara bersamaan.
Rusia Batasi Ekspor Diesel
Salah satu tekanan datang dari Rusia. Moskow membatasi ekspor produk bahan bakar, termasuk diesel, untuk mempertahankan ketersediaan di pasar domestik setelah serangan Ukraina berulang kali mengganggu operasi sejumlah kilang.
Pembatasan tersebut tidak berarti seluruh bahan bakar diesel Rusia berhenti mengalir ke luar negeri. Sejumlah negara yang memiliki pengaturan khusus dengan Moskow masih memperoleh pasokan, termasuk Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Mongolia.
Sebelum gangguan terbaru, Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Pada 2025, Rusia mengekspor lebih dari 800 ribu barel diesel per hari, setara sekitar 12 persen dari ekspor diesel global melalui jalur laut, berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters.
Serangan Ukraina telah memperparah persoalan tersebut. Pada September, setengah dari enam kilang penghasil diesel terbesar Rusia dilaporkan menghentikan atau memangkas produksi secara signifikan.
Rusia juga memangkas proyeksi produksi minyak 2026 menjadi level terendah dalam 17 tahun. Pemerintah Moskow menerapkan sejumlah pembatasan sementara terhadap ekspor diesel, bensin, dan bahan bakar pesawat untuk memprioritaskan kebutuhan domestik.
Dampaknya terasa di pasar global karena kapasitas penyulingan tidak mudah digantikan hanya dengan menambah produksi minyak mentah. Diesel harus diproses di kilang, sementara kapasitas pengolahan yang tersedia di negara lain juga terbatas.
Timur Tengah Terpukul Perang
Sumber tekanan kedua datang dari Timur Tengah. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan eksportir diesel terbesar dunia dengan pengiriman sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2025.
Perang Iran kemudian mengubah peta pasokan. Serangan terhadap fasilitas energi, berkurangnya akses terhadap bahan baku dan terganggunya jalur pelayaran membuat ekspor diesel Timur Tengah turun lebih dari 50 persen antara Maret dan Agustus.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif. Jalur tersebut sebelumnya dilewati sekitar seperlima konsumsi minyak global, sehingga setiap penurunan lalu lintas kapal mempunyai konsekuensi langsung terhadap arus energi internasional.
Sebagian aliran minyak memang mulai pulih melalui jalur alternatif dan mekanisme pengiriman baru. Namun, memulihkan kapasitas penyulingan yang rusak akibat perang jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan rute kapal.
Reuters mencatat gabungan ekspor diesel Rusia dan negara-negara Teluk telah turun sekitar dua pertiga dibandingkan tingkat 2025. Kekurangan sebesar itu sulit ditutup sepenuhnya oleh produsen lain dalam waktu singkat.
China telah meningkatkan ekspor produk olahan. Ekspor diesel China pada Agustus mencapai 1,33 juta ton, meningkat 42,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak Maret 2024.
Namun, tambahan dari China belum sepenuhnya menghapus defisit global. Pasar masih menghadapi persediaan rendah dan kemampuan kilang yang terbatas untuk meningkatkan produksi dengan cepat.
Diesel Cetak Rekor
Tekanan pasokan segera tercermin pada harga. Kontrak berjangka diesel Eropa pada pertengahan September menyentuh rekor sekitar 210 dolar AS per barel, sementara harga diesel ritel AS untuk pertama kalinya menembus enam dolar AS per galon.
Diesel memiliki pengaruh ekonomi yang lebih luas dibandingkan sekadar harga bahan bakar kendaraan pribadi. Bahan bakar tersebut digunakan oleh pertanian, manufaktur, alat berat, angkutan barang dan sebagian kegiatan pelayaran.
Kenaikan harga diesel karena itu dapat masuk ke harga makanan dan barang lain melalui kenaikan ongkos produksi serta distribusi. Efek tersebut dapat bertahan lebih lama apabila pasokan kilang tetap terbatas.
Reuters melaporkan kekurangan diesel global berpotensi berlanjut hingga 2027. Persediaan telah turun ke tingkat historis rendah di sejumlah pasar, sementara perang Iran dan Ukraina terus mengganggu dua kawasan pemasok utama.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan Eropa karena benua itu juga memasuki musim dingin dengan persediaan gas yang lebih rendah daripada biasanya.

55 menit yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·