Rupiah menguat terbantu kondisi eksternal yang masih terjaga

50 menit yang lalu 1
Sentimen terhadap rupiah relatif terbantu oleh kondisi eksternal Indonesia yang masih terjaga

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu bergerak menguat 66 poin atau 0,37 persen menjadi Rp17.818 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah terbantu oleh kondisi eksternal Indonesia yang masih terjaga.

"Sentimen terhadap rupiah relatif terbantu oleh kondisi eksternal Indonesia yang masih terjaga," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Selain itu, cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Agustus 2026 meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS dari 145,3 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Namun, lanjut Amru, rupiah masih menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS dan meningkatnya volatilitas pasar global.

“Inflasi Indonesia pada Agustus juga naik menjadi 3,19 persen secara tahunan, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter perlu tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan inflasi,” ungkap dia.

Dia juga telah memperkirakan bank sentral yang memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Menurut Amru, BI akan lebih menekankan stabilitas nilai tukar, antara lain melalui intervensi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas, dibandingkan memberikan sinyal pelonggaran agresif.

Baca juga: BI optimalkan seluruh instrumen moneter untuk perkuat rupiah

Baca juga: Rupiah pada Rabu pagi menguat menjadi Rp17.857 per dolar AS

Sebagai informasi, BI melalui RDG Bulanan periode September 2026 yang berlangsung pada Selasa (22/9) dan Rabu ini, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen.

Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 4,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 6,5 persen.

Keputusan ini dinyatakan tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Melihat sentimen global, pasar disebut masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

“Pernyataan Presiden Richmond Fed Thomas Barkin pada 22 September yang menilai risiko inflasi masih lebih besar dibandingkan risiko terhadap pasar tenaga kerja membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS lanjutan menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut masih menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah,” ujar dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.803 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.883 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah melemah dipengaruhi antisipasi kenaikan suku bunga lanjutan Fed

Baca juga: BI: Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya