Rupiah menguat seiring investor "wait and see" risalah pertemuan FOMC

1 jam yang lalu 2
Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan (minutes) FOMC malam ini

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, bergerak menguat 33 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.866 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.899 per dolar AS

Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan, penguatan rupiah itu seiring investor yang wait and see menantikan rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia dan risalah pertemuan (minutes) Federal Open Market Committee (FOMC) malam ini.

“Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan (minutes) FOMC malam ini,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Anadolu, para investor yang tengah menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan September dilakukan untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut mengenai keputusan para pembuat kebijakan untuk menaikkan suku bunga serta penilaian mereka terhadap risiko inflasi.

Menurut data CME FedWatch, sebagaimana laporan Xinhua, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 24 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober, turun dari 71 persen seminggu yang lalu.

Adapun data cadev Indonesia, diperkirakan akan menurun dari 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026. ke 144 miliar dolar AS.

“Indeks dolar AS sendiri terpantau terkoreksi oleh rebound pada Euro,” ungkap Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah pada Rabu pagi menguat jadi Rp17.866 per dolar AS

Baca juga: Rupiah menguat seiring potensi kenaikan suku bunga Fed mengecil

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya