Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, bergerak melemah 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.750 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pidato Kepala Federal Reserve (The Fed) yang hawkish.
"Warsh mengatakan bahwa The Fed 'harus bertindak lebih lanjut' jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole, sebagaimana dikutip Anadolu, Warsh mengevaluasi kondisi ekonomi dan kebijakan moneter saat ini.
Dirinya mencatat bahwa meskipun pasar tenaga kerja tetap stabil dan tingkat output ekonomi solid, laju inflasi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Dia menekankan bahwa indikator inflasi acuan The Fed tercatat sebesar 3,7 persen selama 12 bulan terakhir.
Adapun perubahan dalam periode enam bulan bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 4,1 persen, jauh melampaui target tegas bank sentral sebesar 2 persen.
Karena itu, Warsh menegaskan bahwa para pembuat kebijakan harus yakin bahwa inflasi inti benar-benar bergerak menuju target mereka dengan kecepatan yang memadai.
Sentimen lainnya berasal dari eskalasi geopolitik di Asia Barat seiring serangan AS terhadap Iran.
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli. Operasi tersebut, yang dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung, menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.
Sebagai respons, Sputnik mengungkapkan bahwa pasukan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.650-Rp17.800 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah pada Senin pagi melemah jadi Rp17.750 per dolar AS
Baca juga: Ekonom: Orientasi ekonomi RI harus "outward looking" agar rupiah kuat
Baca juga: Rupiah menguat seiring penegasan independensi Bank Indonesia
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·