Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, bergerak melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi laporan konsultasi penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.
“MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, MSCI pada Juni 2026 telah mengumumkan apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada November 2026 Index Review, MSCI akan mempertimbangkan untuk meluncurkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar Indonesia.
Pelaku pasar telah melaporkan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia.
Meskipun reformasi telah diumumkan, masih terdapat kekhawatiran yang signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.
Oleh karena itu, MSCI tidak lagi menganggap klasifikasi lanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tepat, dan sedang meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai Standalone Market.
Sentimen lain dipengaruhi rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang lebih tinggi dari ekspektasi memberikan tekanan terhadap rupiah. Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi.
Sementara itu, inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6 persen YoY dari 2,4 persen YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen YoY. Kenaikan inflasi inti terutama didorong oleh peningkatan biaya shelter dan kendaraan.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi pernyataan sejumlah pejabat The Fed meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Meskipun tekanan inflasi masih persisten yang tercermin dari inflasi harga produsen AS atau Producer Price Index (PPI) yang mencatat kenaikan tercepat dalam lebih dari empat tahun, Fed Vice Chair for Supervision Michelle Bowman dan San Francisco Fed President Mary Daly mengindikasikan para pembuat kebijakan dapat menunggu tambahan data sebelum menentukan arah suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026.
Tercatat, PPI AS meningkat 1,3 persen MoM pada September 2026, melonjak dari 0,5 persen MoM pada bulan sebelumnya dan jauh di atas konsensus pasar sebesar 0,6 persen MoM. Secara tahunan, PPI meningkat menjadi 6,3 persen YoY dari 5,6 persen YoY.
“Perkembangan tersebut menegaskan masih kuatnya tekanan inflasi baik di sisi produsen maupun konsumen di AS,” ujar Josua.
Investor kini disebut menantikan pernyataan lebih lanjut dari Fed Chair Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter sebelum periode komunikasi terbatas (communications blackout) The Fed dimulai pada Sabtu (17/10).
“Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.925–Rp18.050 per dolar, di tengah sentimen risk-off setelah pengumuman MSCI,” ucap dia.
Baca juga: Inflasi AS tinggi, BI pastikan terus jaga rupiah sesuai fundamental
Baca juga: BI Sulsel gandeng Koderal VI bawa Rp25 miliar ke pulau 3T
Baca juga: IHSG "trading halt" dipicu MSCI buka peluang ubah klasifikasi bursa RI
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·