RMI PBNU Dorong Infrastruktur Pesantren yang Aman dan Nyaman bagi Santri

1 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU bersama Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) menggelar Workshop Infrastruktur Pesantren pada Kamis (7/5/2026) sebagai langkah awal memperkuat transformasi pesantren di Indonesia.


Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi strategis untuk membangun standar infrastruktur pesantren yang aman, nyaman, dan berkelanjutan guna mendukung kualitas pendidikan serta masa depan santri.


Transformasi pesantren merupakan salah satu gagasan besar yang diusung Ketua RMI PBNU, KH Hodri Ariev atau yang akrab disapa Kiai Hodri. Gagasan tersebut lahir dari kesadaran bahwa pesantren memiliki peran penting, tidak hanya dalam pendidikan Islam, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan pembangunan bangsa.

Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah hadir sejak abad ke-14 dan tetap bertahan hingga saat ini. Salah satu pesantren tertua di Indonesia, Pesantren Al Kahfi Somalangu, bahkan telah berdiri sejak tahun 1475. Ketahanan pesantren selama ratusan tahun menjadi bukti kontribusi besar pesantren dalam sejarah perjuangan, pendidikan, dan pembangunan bangsa.


Dalam diskusi tersebut, pengurus RMI PBNU, Ulun Nuha menyampaikan bahwa saat ini terdapat sekitar 42 ribu pesantren yang terdaftar di Indonesia dengan jumlah santri mencapai 11,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,4 juta santri tinggal dan menetap di lingkungan pesantren.


“Santri merupakan aset bangsa yang sangat penting. Mereka hidup dan belajar di satu tempat. Bayangkan apabila infrastruktur pesantren tidak aman dan tidak nyaman,” ujar Gus Ulun Nuha.

Ia juga mengutip pernyataan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) terkait pentingnya pesantren sebagai prioritas pembangunan nasional. “Pesantren itu terlalu besar jika tidak dijadikan prioritas. Kalau tidak besar-besar amat sudah saya lupakan,” ungkapnya.

Komitmen mendukung transformasi pesantren juga disampaikan Ketua Umum Inkindo, Erie Heriyadi. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiasi kolaborasi yang dilakukan Inkindo Daerah Istimewa Yogyakarta bersama RMI PBNU.

“Kami menyambut baik apa yang telah diinisiasi oleh Inkindo Jogja dan RMI. Anggota Inkindo memiliki kemampuan dalam pengawasan dan perencanaan yang seharusnya dapat membantu PBNU yang memiliki ribuan pesantren,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa semangat kolaborasi tersebut merupakan bagian dari kontribusi nyata untuk kemaslahatan masyarakat.


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Melalui program yang diinisiasi Inkindo Jogja, yakni Inkindo Connection, kami ingin menghadirkan semacam CSR yang dapat membantu pesantren secara free of charge. Untuk tindak lanjut di lapangan, nantinya juga akan dibantu mencarikan pihak ketiga,” tambah Erie Heriyadi.


Sementara itu, perwakilan Inkindo Yogyakarta, Zuhdi, menegaskan bahwa struktur bangunan pesantren harus menjadi perhatian serius dalam transformasi pesantren ke depan.


“Struktur bangunan menjadi hal yang krusial. Saya banyak membantu pembangunan pesantren di Yogyakarta dan selalu menyampaikan kepada para kyai bahwa pesantren harus lebih aman daripada rumah sakit. Pesantren harus lebih kuat karena di dalamnya terdapat para santri yang sedang dipersiapkan akhlak dan perilakunya untuk masa depan bangsa,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut dari workshop tersebut, PBNU bersama Inkindo merumuskan sejumlah milestone kerja sama strategis dalam mendukung transformasi infrastruktur pesantren. Beberapa di antaranya meliputi penyusunan standar minimal kelayakan infrastruktur pesantren, edukasi dan peningkatan kapasitas SDM pesantren, self-assessment pesantren melalui platform Digdaya, hingga pembentukan hotline service dan pendampingan konsultansi infrastruktur pesantren.


Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam menghadirkan pesantren yang aman, nyaman, dan layak sebagai pusat pendidikan sekaligus pembentukan generasi masa depan Indonesia.

Baca Artikel Selengkapnya