Relawan Global Sumud Flotilla Bakal Dibawa ke Penjara Ketziot

53 menit yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Panitia Global Sumud Flotilla menyatakan kemungkinan para peserta Armada Global Sumud yang diculik Israel akan dibawa ke Penjara Ketziot. Otoritas konsuler dilaporkan mulai menyiapkan pendampingan bagi para aktivis internasional dan jurnalis yang ditahan Israel, termasuk dari Indonesia.

Dalam keterangan resmi yang dirilis panitia pelayaran, informasi terbaru dari pihak konsulat menyebutkan pemerintah Israel akan mulai mengatur kunjungan bantuan konsuler setelah para relawan tiba di Pelabuhan Ashdod dan dipindahkan ke Penjara Ketziot.

Pelabuhan Ashdod disebut menjadi lokasi awal pemrosesan para aktivis sebelum mereka dibawa ke Ketziot Prison, fasilitas penahanan yang selama ini dikenal sebagai tempat penahanan warga Palestina dan tahanan keamanan.

“Informasi terbaru yang diterima konsul langsung dari otoritas Israel adalah bahwa besok, setelah mereka tiba di Ashdod, diproses, dan dipindahkan ke Ketziot, kunjungan bantuan konsuler akan mulai diatur,” demikian pernyataan panitia Global Sumud Flotilla, Rabu dini hari WIB atau Selasa malam waktu Palestina.

Menurut panitia Global Sumud inilah yang terjadi pada dua misi besar tahun lalu. Ini juga merupakan skenario yang telah dipersiapkan oleh para peserta, pengacara, dan tim pendukung. 

“Para peserta akan mendarat dalam beberapa jam mendatang di pelabuhan Ashdod dan pengacara kami akan berada di sana untuk mengonfirmasi kedatangan mereka.” 

“Sebagian peserta disebut akan diproses melalui sistem berarti transfer akan memakan waktu beberapa jam.”

Sebelumnya, pasukan Israel mencegat puluhan kapal Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan sejak Senin (18/5/2026). Sejumlah aktivis dari berbagai negara dilaporkan ditahan dalam operasi tersebut.

Penjara Ketziot yang berada di Gurun Negev selama ini kerap menjadi sorotan organisasi hak asasi manusia internasional. Fasilitas itu beberapa kali dituduh menjadi lokasi penahanan dengan dugaan kekerasan terhadap tahanan Palestina maupun tahanan administratif.

Terletak di tengah gurun Negev yang tandus, sekitar 70 kilometer dari Beersheba, kompleks penjara itu sudah lama menjadi momok bagi warga. Di kalangan tahanan Palestina, tempat itu lebih dikenal sebagai Ansar III—merujuk pada kamp tahanan serupa yang dibangun Israel di Lebanon Selatan pada era pendudukan.

Penjara ini didirikan pada 1988, ketika gelombang Intifada Pertama membuat Israel menangkap ribuan warga Palestina. Ketziot dibangun sebagai kamp tahanan darurat di tengah gurun, dengan barak-barak dan tenda yang awalnya disiapkan untuk menampung ledakan jumlah tahanan Palestina. Pada masanya, kamp itu disebut sebagai pusat penahanan terbesar Israel. Human Rights Watch pernah mencatat, pada 1990, sekitar satu dari setiap 50 laki-laki Palestina usia di atas 16 tahun di Tepi Barat dan Gaza pernah mendekam di sana.

Sejak awal berdirinya, Ketziot menuai kontroversi. Mahkamah Agung Israel bahkan pernah mengunjungi kamp itu pada 1988 menyusul gugatan para tahanan terkait kondisi penahanan dan dugaan pelanggaran hukum internasional. Para tahanan menuduh Israel melanggar Konvensi Jenewa Keempat karena memindahkan warga dari wilayah pendudukan ke penjara di wilayah Israel.

Namun sorotan terhadap Ketziot bukan hanya soal lokasi penahanan. Penjara itu berulang kali dikaitkan dengan dugaan kekerasan sistematis terhadap tahanan Palestina. Organisasi HAM Israel, HaMoked dan ACRI, pernah melaporkan insiden pada Maret 2019 ketika puluhan tahanan diborgol, dipukuli, ditendang, dan dipaksa berbaring berjam-jam setelah seorang sipir ditikam. Rekaman kamera keamanan yang bocor memperlihatkan para tahanan dalam kondisi tak berdaya ketika dipukul aparat penjara.

ACRI menuding tindakan itu sebagai bentuk “hukuman kolektif” dan bahkan mengarah pada penyiksaan. Dalam laporan mereka disebutkan sejumlah tahanan ditahan di halaman terbuka selama lebih dari 36 jam tanpa akses memadai terhadap air, makanan, maupun toilet.

Selain kekerasan fisik, Ketziot juga lama dituduh menjalankan praktik penahanan administratif secara luas—yakni penahanan tanpa dakwaan maupun pengadilan terbuka. Sistem ini memungkinkan Israel menahan warga Palestina berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dengan alasan keamanan. Praktik tersebut terus menjadi sasaran kritik kelompok HAM internasional.

Kerusuhan dan aksi mogok makan juga berulang kali terjadi di Ketziot. Pada 2007, seorang tahanan Palestina dilaporkan tewas setelah bentrokan antara sipir dan narapidana ketika penggeledahan berlangsung. Ribuan tahanan Palestina kemudian melakukan aksi mogok makan sebagai protes terhadap perlakuan sipir penjara.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama Ketziot kembali mencuat seiring perang Gaza dan penahanan gelombang baru warga Palestina maupun aktivis internasional. Sejumlah laporan media dan organisasi HAM menggambarkan kondisi penjara yang disebut penuh intimidasi, penghinaan, kekurangan makanan, hingga dugaan penyiksaan.

Siapa saja yang pernah ditahan di Ketziot? Mayoritas penghuni penjara ini adalah tahanan Palestina dari Gaza dan Tepi Barat, termasuk anggota kelompok perlawanan seperti Hamas dan Jihad Islam. Namun Ketziot juga pernah menahan aktivis internasional yang ditangkap Israel saat mencoba menembus blokade Gaza lewat misi kemanusiaan laut. Dalam laporan terbaru, sejumlah relawan Global Sumud Flotilla dari berbagai negara, termasuk Australia dan Malaysia, disebut sempat dibawa ke Ketziot setelah kapal mereka dicegat Israel.

Bagi warga Palestina, Ketziot bukan sekadar penjara di tengah gurun. Ia menjadi simbol panjangnya sejarah penahanan massal, pendudukan, dan tuduhan pelanggaran HAM yang terus membayangi konflik Israel-Palestina hingga hari ini.

Baca Artikel Selengkapnya