Jakarta, CNN Indonesia --
Lebih dari 100 pemukim ekstremis Yahudi terlibat bentrokan dengan pasukan Israel di dekat desa Palestina Jalud, Tepi Barat, pada Selasa (29/9).
Kerusuhan itu terjadi ketika otoritas Israel berupaya memulangkan sebuah keluarga Palestina ke rumah mereka setelah sebelumnya terusir akibat serangan pemukim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), para pemukim memblokir jalan, membakar ban, serta melempar batu ke arah tentara dan petugas Polisi Perbatasan Israel.
Mereka juga membakar sejumlah bangunan, kendaraan, dan properti milik warga Palestina di sekitar lokasi.
Akibat bentrokan tersebut, tiga petugas Polisi Perbatasan mengalami luka ringan. Satu kendaraan milik pasukan keamanan Israel juga dilaporkan mengalami kerusakan.
IDF mengatakan upaya pemulangan keluarga Palestina itu telah dikoordinasikan sebelumnya. Namun, proses tersebut gagal dilakukan akibat aksi kerusuhan para pemukim.
Pemulangan itu dilakukan berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Israel pada 6 September yang memerintahkan pemerintah mengatur kepulangan tiga pemohon Palestina beserta keluarga mereka ke rumah di Jalud dalam waktu 14 hari.
Dalam putusan tersebut, pengadilan juga meminta IDF dan polisi Israel memberikan perlindungan selama proses kepulangan. Keluarga Palestina diperbolehkan membawa peralatan untuk memperbaiki rumah serta memulihkan akses air dan listrik.
Para hakim juga meminta pemerintah menjelaskan alasan warga Palestina belum dapat kembali ke rumah mereka dan mengapa penghalang jalan menuju kawasan tersebut masih dipertahankan. Pemerintah Israel diwajibkan menyerahkan jawaban resmi pada 8 Oktober.
Kasus Pos Pemukiman Ilegal di Jalud
Kasus ini berkaitan dengan pos pemukiman Givat Hatzmabarim yang tidak memiliki izin dan didirikan dekat Jalud pada April lalu.
Dua keluarga pemohon meninggalkan rumah mereka pada Juli setelah mengalami tekanan dan pengepungan yang disebut pengadilan sebagai pengepungan de facto berkepanjangan.
Mahkamah Agung Israel menilai langkah yang dilakukan pemerintah belum menghasilkan penegakan hukum yang efektif, meskipun otoritas telah memiliki informasi terkait identitas pelaku, data kendaraan, serta bukti foto mengenai insiden tersebut.
Pasukan Israel kemudian menggunakan tindakan pembubaran massa untuk membubarkan kerumunan pemukim.
Dua orang juga ditangkap dan diserahkan kepada Kepolisian Distrik Yudea dan Samaria untuk menjalani pemeriksaan.
Polisi dan penyidik forensik dijadwalkan memasuki wilayah tersebut dengan pengamanan IDF untuk mengumpulkan bukti serta kesaksian dalam penyelidikan.
"Lembaga keamanan mengutuk keras segala bentuk bahaya terhadap personel keamanan saat menjalankan tugas mereka, serta tindakan vandalisme dan perusakan properti," kata IDF, seperti dilaporkan The Jerusalem Post.
Menurut IDF, tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas keamanan serta menghambat operasi pertahanan dan pemberantasan terorisme.
"Insiden semacam itu mengalihkan perhatian, merusak stabilitas, dan menghambat kegiatan pertahanan dan kontra-terorisme pasukan keamanan," kata IDF.
Ketegangan Tepi Barat Meningkat
Bentrokan di Jalud terjadi ketika ketegangan di Tepi Barat meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
IDF memperkuat kehadirannya di wilayah tersebut di tengah kekhawatiran meningkatnya kekerasan antara warga Israel dan Palestina.
IDF kemudian memperbesar jumlah pasukan di Divisi Yudea dan Samaria menjadi sekitar 25 batalion untuk menghadapi potensi serangan maupun kerusuhan.
Seorang sumber militer di Komando Pusat Israel mengatakan pasukan IDF, Polisi Perbatasan, dan kepolisian memperkuat penjagaan di sejumlah titik rawan, termasuk jalan utama, kawasan pendakian, lokasi konflik, dan permukiman.
"Pasukan IDF, Polisi Perbatasan, dan Polisi Israel memperkuat jalan-jalan, area pendakian, titik-titik gesekan yang diketahui, dan permukiman," kata seorang sumber militer di Komando Pusat.
"Ketegangan jelas terasa di lapangan. Beberapa evaluasi situasi telah dilakukan sepanjang hari dengan pembaruan terus-menerus dari lapangan ke markas besar," tambah sumber tersebut.
Para pejabat militer memperingatkan situasi di Tepi Barat masih sangat tidak stabil.
Salah satu pejabat militer khawatir satu insiden besar yang melibatkan warga Palestina dan Israel, terutama jika terekam dan menyebar luas, dapat memicu kerusuhan lebih besar.
"Yang kurang hanyalah insiden gesekan antara Palestina dan Israel yang membesar, terekam dalam video, dan memicu kerusuhan di daerah tersebut," ujarnya.
Serangkaian Kekerasan oleh Pemukim
Selain insiden di Jalud, sejumlah aksi kekerasan yang melibatkan pemukim Israel juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir.
Di desa Palestina al-Mughayyir, kelompok pemukim bertopeng dilaporkan masuk ke wilayah tersebut dengan alasan menggembalakan domba. Setelah itu, warga melaporkan adanya perusakan kendaraan dan rumah.
Warga Palestina melaporkan bahwa kelompok pemukim membakar rumah tahanan Fikri Musa Abu Aliya serta sejumlah kendaraan ketika pasukan IDF melakukan operasi di wilayah tersebut.
Insiden lain dilaporkan terjadi di sektor Brigade Regional Ephraim, ketika terjadi bentrokan antara warga Palestina dan Israel di dekat pos pemukiman Ammurya. Sebuah kendaraan dilaporkan masuk ke parit akibat kejadian tersebut.
Di sektor Binyamin, laporan menyebutkan adanya kendaraan Palestina yang dibakar serta grafiti berbahasa Ibrani yang disemprotkan di desa Attara.
Selain itu, 14 pemukim dilaporkan masuk ke halaman rumah warga Palestina di Abu Falah dan merusak kaca kendaraan.
Seorang perempuan Palestina juga melaporkan diserang saat terjebak kemacetan di Persimpangan Rimonim. Ia mengatakan seorang pemukim melempar batu ke arahnya. Ia merekam dan kemudian mengunggahnya ke media sosial.
Pada Minggu, warga Palestina juga melaporkan serangan terhadap komunitas Naif al-Ka'abneh di dekat Ramallah. Mereka menyebut sejumlah rumah dan kendaraan dirusak. Selain itu, sebanyak NIS 3.000 juga dilaporkan hilang.
Pada malam berikutnya, kelompok warga Israel dilaporkan mendatangi dua lokasi di Deir Abu Mash'al. Mereka membakar kendaraan, menyemprotkan grafiti, dan merusak sejumlah properti.
(mge/rds)

7 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·