Raja Yordania Perintahkan Respons Tegas Usai Serangan Gereja

58 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Raja Yordania Abdullah II memerintahkan pasukan keamanan merespons dengan tindakan tegas menyusul serangan bersenjata di sebuah gereja yang menewaskan sembilan orang dan melukai 40 lainnya. Serangan itu terjadi saat prosesi pemakaman berlangsung di Gubernuran Karak, Jumat (23/10).

Abdullah memerintahkan aparat bertindak dengan "tangan besi" ketika otoritas setempat masih memburu para pelaku penembakan. Insiden tersebut tergolong langka di Yordania, negara Timur Tengah yang relatif stabil dan memiliki komunitas Kristen sebagai kelompok minoritas.

Menurut keterangan yang disampaikan istana kerajaan, Abdullah mengecam serangan itu sebagai "tindakan teroris yang tercela" saat memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional pada Sabtu (24/10) mengutip Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan tidak boleh ada kelonggaran dalam menangani ancaman terhadap nyawa warga Yordania. Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Amman menyatakan pengamanan ditingkatkan di sejumlah lokasi, termasuk pusat perbelanjaan, kedutaan asing, dan tempat-tempat lainnya di seluruh negeri.

Jemaat panik saat tembakan beruntun

Seorang pastor menceritakan suasana mencekam ketika para pelaku melepaskan tembakan di Gereja Ortodoks Yunani Santo George, sekitar 120 kilometer di barat daya ibu kota Amman. Theodoros Soueiss mengatakan dirinya bersama orang-orang yang berada di gereja meminta jemaat segera tiarap untuk menghindari peluru.

"Rasa panik menyelimuti orang-orang yang hadir. Tembakan dilepaskan secara membabi buta, dan kita tidak pernah tahu ke mana peluru akan jatuh," kata Soueiss.

Para pelaku dilaporkan melepaskan tembakan selama beberapa menit pada siang hari. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan puluhan orang terluka. Tarek Ammarin, yang memiliki kerabat terluka dalam insiden itu, menggambarkan serangan tersebut sebagai pembantaian ketika berada di rumah sakit tempat para korban dirawat.

"Pembantaian, pembantaian dalam setiap makna kata," ujarnya.

Motif serangan masih diselidiki

Hingga Sabtu, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Otoritas Yordania juga menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah para pelaku memiliki hubungan dengan kelompok tertentu, baik di dalam maupun di luar negeri.

Serangan semacam ini jarang terjadi di Yordania. Meski demikian, aparat keamanan negara tersebut menyatakan telah menggagalkan sejumlah rencana serangan yang melibatkan kelompok Islamis dalam beberapa tahun terakhir.

Wali Kota Desa Shihan di Karak, Bahjat al-Rushda, turut mengecam insiden tersebut. Ia menyebut serangan itu sebagai aksi teroris ekstremis dan berharap keamanan negara tetap terjaga.

"Insyaallah, negara ini akan tetap aman," katanya.

Yordania merupakan salah satu mitra utama Amerika Serikat dalam upaya memerangi kelompok militan di kawasan Timur Tengah. Negara itu juga menjadi salah satu sekutu Washington di kawasan yang terdampak serangan Iran tahun ini, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari.

Di Yordania, umat Kristen merupakan kelompok minoritas. Negara tersebut juga memiliki sejumlah situs yang berkaitan dengan sejarah Alkitab dan menjadi tujuan ziarah umat Kristen dari berbagai negara.

Serangan di Gereja Santo George menambah kekhawatiran terhadap keamanan warga sipil di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih diliputi ketegangan.

(tis/tis)

Baca Artikel Selengkapnya