Rabbi Israel Sebut Palestina Tak Punya Hak, Tuai Kecaman

15 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Rabbi Sephardi Israel, David Yosef, menuai sorotan setelah menyangkal keberadaan rakyat Palestina dan menyatakan mereka "tidak memiliki hak apa pun."

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara di Museum Gush Katif, Yerusalem Barat, pada Agustus lalu. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada yang namanya rakyat Palestina dan mereka tidak memiliki hak apa pun," kata Yosef dalam pidatonya.

Yosef juga disebut menegaskan klaim kepemilikan Yahudi atas Jalur Gaza dan sejumlah kota di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Ia juga menyerukan penghancuran Gaza serta pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina tersebut.

Pernyataan Yosef mendapat kecaman dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) selaku organisasi hak sipil dan advokasi Muslim terbesar di Amerika Serikat. CAIR mengutuk pernyataan "penuh kebencian" yang dianggap menyangkal keberadaan dan hak rakyat Palestina.

Direktur Eksekutif Nasional CAIR, Nihad Awad, mengatakan pernyataan seorang pemimpin agama yang menyangkal keberadaan serta hak suatu bangsa dapat memperburuk kondisi kemanusiaan.

"Sangat meresahkan bahwa seorang pemimpin agama akan menyangkal keberadaan dan hak-hak dasar seluruh bangsa. Retorika seperti itu merendahkan martabat manusia Palestina dan membantu menciptakan iklim ideologis serta religius di mana kekerasan massal dapat dinormalisasi dan dibenarkan," kata Awad dalam pernyataan CAIR.

Awad menegaskan bahwa rakyat Palestina memiliki sejarah, budaya, identitas, serta hubungan yang kuat dengan tanah tempat mereka tinggal.

"Keberadaan dan hak asasi manusia mereka bukanlah sesuatu yang dapat diberikan atau ditolak," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga menyerukan agar hak dasar, martabat, kebebasan, dan keamanan rakyat Palestina tetap dihormati seperti halnya manusia lainnya.

"Pengabaian terhadap kemanusiaan dan hak-hak Palestina tidak boleh dinormalisasi. Rakyat Palestina berhak atas hak-hak dasar, martabat, kebebasan, dan keamanan yang sama seperti setiap manusia lainnya."

(mge/dna)

Baca Artikel Selengkapnya