Surabaya, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengenakan syal bertuliskan Save Palestine dalam puncak resepsi Hari Santri Nasional 2026 yang dirangkai dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina di halaman Kantor PCNU Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026) malam. Aksi tersebut menegaskan komitmen PBNU terhadap perjuangan dan keberlangsungan bangsa Palestina.
Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh mengatakan, penggunaan syal Palestina dalam peringatan Hari Santri merupakan bentuk dukungan agar rakyat Palestina tetap eksis di tengah situasi kemanusiaan yang mereka hadapi.
“Pada hari ini juga kita semua memakai selendang atau syal Save Palestine. Kita selamatkan, kita pastikan rakyat Palestina, bangsa Palestina harus tetap eksis di dunia ini, dan NU telah menyatakan deklarasinya sejak tahun 1938 tentang komitmennya terhadap bangsa Palestina,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan Palestina menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan Hari Santri. Menurutnya, solidaritas kemanusiaan perlu terus dihidupkan melalui berbagai momentum, termasuk peringatan yang berakar pada sejarah perjuangan santri dan ulama.
“Oleh karena itu, hari ini pun juga urusan Palestina ini kita jadikan sebagai satu kesatuan dari peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026,” ucapnya.
Menghidupkan Semangat Perjuangan Ulama
Prof Nuh juga mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama peran Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan para tokoh Nahdlatul Ulama dalam lahirnya Resolusi Jihad pada 1945.
“Kita memperingati Hari Santri Nasional ini tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dan kejuangan, keikhlasan dari Hadratussyaikh, para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama pada saat baru saja Indonesia dinyatakan merdeka, tetapi karena dalam ancaman kemerdekaan itu sendiri, beliau-beliau mengeluarkan yang namanya Resolusi Jihad itu,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan mengambil nilai perjuangan para pendahulu untuk menjawab tantangan masa kini.
“Peringatan ini bukan sekadar nostalgia, romantisme tentang masa lalu, tetapi justru kita ingin mengambil makna yang luar biasa dari apa yang sudah ditanamkan oleh para sesepuh-sesepuh kita, yaitu perjuangan demi bangsa dan negara,” katanya.
Menurut Prof Nuh, semangat perjuangan tersebut harus terus menjadi ruh dalam membangun bangsa dan negara. Ia juga mengajak jamaah mendoakan para pendiri NU, masyayikh, dan pejuang yang telah wafat agar memperoleh ampunan serta kasih sayang Allah swt.
“Hari ini kita memperingati itu, sekaligus juga kita mendoakan agar para muassis, para masyayikh, para pejuang yang sudah mendahului kita, senantiasa mendapatkan ampunan dari Allah swt,” pungkasnya.

1 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·