Presiden Iran Tegaskan Sikap Iran soal Serangan, Nuklir, dan Palestina

3 jam yang lalu 4

Jakarta, NU Online

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bantahan atas tuduhan Amerika Serikat yang melabeli negaranya sebagai pelaku terorisme. Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya justru merupakan korban terorisme dan sedang membela diri.

"Kemarin Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris, padahal kami adalah korban terorisme. Kami hanya membela diri, kami bukanlah teroris," ujarnya saat menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York, dikutip NU Online dari Web TV UN, Kamis (24/9/2026).

Pezeshkian lantas melanjutkan pidatonya sembari menunjukkan foto Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang ia sebut sebagai uji coba pembunuhan tanpa kerangka hukum. Ia juga menunjukkan foto anak-anak sekolah di Minab yang tewas akibat serangan bom, serta insiden penyerangan aula olahraga tempat anak-anak sedang bermain. 

"Anda lihat anak-anak ini, anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel, padahal mereka polos dan tidak melakukan kejahatan apa pun," ungkap Pezeshkian.

Ia menyatakan bahwa korban-korban sipil tersebut gugur oleh senjata berhulu ledak ganda buatan AS dan Israel.

Selanjutnya, Pezeshkian menegaskan bahwa selama 200 tahun terakhir, Iran tidak pernah sekalipun menyerang negara atau wilayah mana pun. Sebaliknya, Iran secara konsisten menjadi pihak yang diserang, mulai dari pembunuhan para ilmuwan, perusakan infrastruktur publik seperti universitas, rumah sakit, dan pusat kesehatan, hingga aksi pembunuhan Ismail Haniyeh di Teheran tepat pada hari pelantikannya sebagai presiden.

"Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi target serangan dan agresi Anda," ujarnya. 

"Kami membela diri kami dengan kekuatan penuh. Ya, mereka memang menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut," tegas Pezeshkian.

Momen pidato tersebut diwarnai aksi walkout dari perwakilan Amerika Serikat yang memilih meninggalkan ruang sidang tepat saat Presiden Iran mulai menyampaikan pembelaan dan bantahannya dari mimbar utama.

Kendati demikian, Pezeshkian terus melanjutkan pidatonya dengan lantang. Ia membeberkan fakta mengenai eskalasi konflik di Gaza, di mana 80.000 warga sipil tewas terbunuh dan ratusan ribu lainnya terdisplacement (terusir dari rumah mereka) akibat aksi genosida Israel.

"Mereka melakukan genosida dengan menggunakan teknologi teratas yang berada dalam genggaman mereka, lalu mereka melabeli pihak lain sebagai teroris. Ataukah kami sumber inspirasi? Kami hanya berusaha untuk hidup secara independen. Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan?" ujar Pezeshkian.

"Mereka yang melakukan terorisme dan kejahatan justru mengklaim diri sebagai pelindung perdamaian dan stabilitas. Tidak ada satu pun hukum internasional yang dipatuhi oleh mereka. Inilah yang sedang kami hadapi," lanjutnya.

Ia kemudian mengkritik keras ketidakadilan sistemik dan standar ganda yang diterapkan oleh negara-negara Barat terkait isu sanksi ekonomi dan pengawasan nuklir.

"Senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur dikirim ke Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenakan sanksi," sindirnya tajam.

Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai untuk kebutuhan medis, ketahanan pangan sektor pertanian, dan pasokan energi listrik. Iran menolak keras dominasi segelintir negara yang ingin menguasai teknologi nuklir secara eksklusif dan memastikan tidak akan membiarkan hak intrinsiknya dirampas.

"Kami tidak akan menundukkan kepala dan melepaskan hak yang secara inheren adalah milik kami. Kami tegaskan, tidak untuk senjata nuklir, dan tidak ada pembatasan untuk teknologi nuklir yang damai," tegasnya. 

Tak lupa, Pezeshkian lantas menyoroti krisis kemanusiaan di Palestina sebagai bukti paling nyata dari kegagalan sistem keamanan dunia dalam menghentikan kekerasan dan pendudukan yang berkepanjangan. Ia menegaskan bahwa upaya menciptakan stabilitas kawasan akan sia-sia jika hak-hak dasar rakyat Palestina dan penderitaan warga sipil di Gaza terus diabaikan oleh komunitas global.

"Palestina tetap menjadi luka terbuka pada hati nurani komunitas internasional, dan Gaza tetap menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil," tegasnya. 

"Perdamaian yang abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina, selama pendudukan masih berlangsung," lanjutnya.

Soal stabilitas regional, ia memperingatkan bahwa peperangan di Asia Barat tidak mengenal batas wilayah. Ia secara khusus menyoroti situasi Selat Hormuz dan menegaskan Iran tidak akan membiarkan pihak asing memanfaatkan perairan strategis tersebut untuk meraup keuntungan sekaligus mengisolasi Iran dari perairannya sendiri.

"Kami tidak dapat membiarkan sebagian pihak memiliki akses bebas dan mengambil keuntungan dari jalur perairan tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur perairan itu untuk memaksakan agresi dan ketidakamanan kepada kami, atau melarang kami mengakses jalur perairan kami sendiri," tegas Pezeshkian.

"Kami tidak akan tunduk pada mereka. Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Seseorang tidak dapat menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir sambil mengharapkan keamanan maritim," lanjutnya.

Mengakhiri pidatonya, ia menyatakan bahwa seluruh sistem pertahanan dan kapabilitas militer Iran dibangun agar setiap pemboman terhadap kota-kota Iran tidak pernah dibiarkan tanpa balasan. Ia juga memastikan bahwa tekanan maksimum, sanksi, maupun ancaman militer tidak akan pernah menyurutkan perlawanan rakyatnya.

"Kami akan berdiri membela tanah air yang kami cintai, Iran, hingga hembusan napas terakhir kami," pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya