Prabowo di KTT BRICS Bahas Upaya Bangun Ekonomi Hijau

1 jam yang lalu 3

Jakarta, NU Online

Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota BRICS mengubah berbagai kerentanan yang dihadapi menjadi peluang dan kekuatan ekonomi. Menurut dia, kekayaan sumber daya alam, energi, dan mineral kritis yang dimiliki negara-negara BRICS dapat menjadi modal untuk membangun perekonomian yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan.


Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri sesi Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Ahad, (13/9/2026). Pertemuan tersebut mengusung tema “Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth”.


Prabowo mengatakan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan tidak boleh berhenti sebagai gagasan. Keempat hal itu, kata dia, harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.


“Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan,” ujar Prabowo dikutip dari Biro Sekretariat Presiden, Senin (14/9/2026).


Prabowo mengatakan Indonesia memahami persoalan tersebut karena memiliki karakter geografis yang membuatnya rentan terhadap berbagai bencana. Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Cincin Api, Indonesia menghadapi kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, hingga aktivitas gunung berapi.


Namun, menurut Prabowo, kerentanan tersebut berjalan beriringan dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Daratan dan lautan Indonesia menyimpan berbagai sumber daya yang dapat menjadi modal pembangunan di masa depan.


“Mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang bernapas bagi dunia. Hal yang sama juga berlaku di seluruh BRICS,” kata dia.


Prabowo menilai negara-negara BRICS memiliki posisi strategis karena secara kolektif menguasai porsi signifikan mineral kritis dan sumber daya energi dunia. Potensi tersebut, menurut dia, dapat menjadi fondasi untuk memasuki apa yang disebutnya sebagai abad hijau.


Karena itu, Prabowo meminta bencana dan perubahan iklim tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan. Keduanya harus ditempatkan dalam konteks pembangunan nasional.


“Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau. Itulah sebabnya, ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar bencana,” ujar Prabowo.


“Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional,” lanjutnya.


Prabowo mengatakan Indonesia dan negara-negara BRICS serta negara-negara Global South menghadapi tantangan yang serupa dan saling berkaitan. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi alasan bagi negara-negara anggota BRICS untuk memperkuat kerja sama.


Menurut Prabowo, kerja sama itu dapat dilakukan dengan menyatukan sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki masing-masing negara.


“Ketika kita menghadapi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita juga menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah yang sangat besar,” katanya.


Prabowo menilai penggabungan berbagai kekuatan tersebut dapat membuat BRICS memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian global. “Satukan semuanya, dan BRICS dapat memberikan perbedaan yang nyata dan penting bagi dunia,” ujarnya.


Karena itu, ia menekankan pentingnya negara-negara BRICS terlebih dahulu mengenali kekuatan yang mereka miliki dan menggunakannya untuk saling membantu. “Langkah pertama adalah mengakui nilai dari apa yang kita miliki dan menggunakan kekuatan ini untuk saling membantu,” katanya.

Baca Artikel Selengkapnya