Polandia Mencekam Usai Rentetan Penikaman, 20 Ribu Polisi Dikerahkan, PM Tusk Buka Suara

50 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Polandia mengerahkan sekitar 20 ribu polisi ke sekolah-sekolah di seluruh negeri setelah tiga serangan menggunakan senjata tajam dalam empat hari memicu kekhawatiran mengenai keamanan pelajar dan kemungkinan munculnya aksi tiruan. Operasi besar-besaran itu dilakukan ketika pemerintah Perdana Menteri Donald Tusk berusaha meredam ketakutan yang menyebar cepat melalui sekolah, keluarga, dan media sosial.

Menteri Dalam Negeri Polandia Marcin Kierwinski mengatakan sekitar 20 ribu polisi ditempatkan di sekitar sekolah pada Senin (12/10/2026). Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperlima dari keseluruhan kekuatan kepolisian Polandia, menurut Reuters.

Tusk mengatakan kehadiran besar polisi membantu menurunkan ketegangan setelah serangkaian serangan membuat sebagian orang tua khawatir mengirim anak mereka ke sekolah. Pemerintah mengatakan operasi keamanan akan terus dilakukan selama masih terdapat tanda-tanda yang menimbulkan kekhawatiran.

Pengamanan itu bukan sekadar patroli di depan gerbang sekolah. Polisi memeriksa lembaga pendidikan, menindak ancaman yang beredar secara daring, menelusuri kepemilikan senjata tajam, dan dalam keadaan tertentu memeriksa tas siswa.

Dalam operasi tersebut, sedikitnya 135 orang telah ditahan hingga Senin. Kepala Kepolisian Polandia Marek Boron mengatakan sebagian besar kasus melibatkan anak muda yang terinspirasi serangan sebelumnya dan berusaha memperoleh perhatian dengan ancaman atau tindakan di internet.

Kasus-kasus itu mencakup ancaman serangan, kepemilikan senjata tajam dan unggahan yang dianggap membahayakan. Polisi juga menemukan sejumlah anak muda terpengaruh subkultur ekstrem, permainan komputer, atau konten kekerasan yang beredar di dunia maya.

Salah satu kasus yang paling mencemaskan melibatkan seorang anak yang membuat model sekolahnya sendiri dalam platform permainan Roblox. Menurut polisi, ia menggunakan model tersebut untuk mensimulasikan serangan terhadap siswa dan kemudian ditemukan memiliki senjata api, amunisi serta pisau.

Namun, pemerintah meminta masyarakat tidak menyimpulkan bahwa seluruh kejadian tersebut merupakan bagian dari satu rencana terkoordinasi. Hingga kini penyelidik tidak menemukan bukti bahwa tiga serangan utama yang mengguncang sekolah-sekolah Polandia saling terkait atau merupakan bagian dari sebuah kelompok terorganisasi.

Serangkaian kekerasan itu dimulai pada Rabu (7/10/2026) di Ostroleka, sekitar 120 kilometer timur laut Warsawa. Seorang siswa berusia 19 tahun di sekolah kejuruan menyerang siswa, guru dan orang yang berada di sekitar sekolah menggunakan senjata tajam.

Associated Press melaporkan sembilan orang terluka dalam serangan tersebut, terdiri atas lima siswa, dua guru dan dua orang yang berada di sekitar lokasi. Tidak ada korban yang berada dalam kondisi mengancam nyawa, meskipun salah seorang korban mengalami luka serius dan harus dievakuasi menggunakan helikopter.

Kejaksaan Polandia kemudian mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan. Tersangka disebut membawa sebuah tas berisi bahan peledak rakitan dan melemparkannya ke sebuah ruangan tempat 11 orang berada sebelum kemudian menyerang korban lain menggunakan pisau.

Jaksa mendakwa pemuda tersebut dengan sejumlah tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan banyak orang menggunakan bahan peledak dan percobaan pembunuhan menggunakan senjata berbahaya. Tersangka juga melakukan tindakan melukai diri sendiri sebelum akhirnya ditangkap tidak jauh dari sekolah.

Belum sampai 24 jam, Polandia diguncang serangan kedua yang lebih mematikan. Seorang mantan siswa berusia 15 tahun memasuki sekolah dasar di Leszczydol-Nowiny, di timur laut Warsawa, pada Kamis dan menyerang sejumlah pegawai sekolah.

Seorang petugas sekolah perempuan berusia 37 tahun tewas dalam serangan itu. Kepala sekolah dan seorang guru juga terluka ketika berusaha menghentikan pelaku.

Detail lain membuat kasus itu semakin mengkhawatirkan. Pelaku berusia 15 tahun tersebut mengenakan helm yang dilengkapi kamera dan, menurut Tusk, bermaksud merekam serangan yang dilakukannya.

Kepala sekolah Krzysztof Ochmanski akhirnya berhasil menguasai remaja tersebut meski dirinya turut terluka. Kepada media, ia mengatakan pada satu titik pelaku tampak menyadari besarnya tindakan yang telah dilakukan dan meminta pertolongan.

Baca Artikel Selengkapnya