Pjs Dirut BEI ingatkan investasi di pasar modal untuk jangka panjang

1 jam yang lalu 5
Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian

Jakarta (ANTARA) - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik memberikan pesan bahwa investasi di pasar modal merupakan instrumen investasi untuk jangka panjang.

“Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini, kan juga sudah disampaikan pesan, bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” ujar Jeffrey kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, Kamis.

Jeffrey tetap meyakini bahwa fundamental ekonomi nasional akan semakin baik ke depan. “Kita sama-sama meyakini bahwa fundamental ekonomi ke depan akan makin baik,” ujar Jeffrey.

Ia kembali mengingatkan terkait adanya pesan dari Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR pada Rabu (21/05), yaitu terkait dengan kemudahan perizinan dalam berusaha.

“Kemarin juga ada pesan dari Bapak Presiden (Prabowo Subianto) bahwa kemudahan berusaha, perizinan juga akan dipermudah dari yang dua tahun diharapkan bisa dalam hitungan minggu,” ujar Jeffrey.

Melalui kemudahan tersebut, Ia optimistis akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian termasuk pasar modal Indonesia dalam jangka waktu menengah panjang ke depan.

“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian, dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif," ujar Jeffrey.

Dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR, Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menteri di Kabinet Merah Putih untuk melakukan perbaikan tata kelola birokrasi demi mewujudkan iklim usaha yang baik di Tanah Air, termasuk mempercepat perizinan usaha.

Selain itu, Presiden juga menyoroti perlunya langkah pemerintah untuk mempermudah dan mempercepat proses perizinan untuk berusaha. Dia secara khusus merujuk kepada negara tetangga Malaysia yang dapat menerbitkan izin hanya dalam waktu dua pekan, dibandingkan Indonesia yang membutuhkan dua tahun.

Kemudian, Presiden juga menyebutkan perlunya penyederhanaan birokrasi, mengingat terdapat tahapan yang terlalu berlapis dapat menghambat kegiatan usaha di Indonesia. Birokrasi tersebut ditandai dengan perlunya periode penerbitan aturan teknis sampai rekomendasi di tingkat kementerian/lembaga.

Sementara itu, data penutupan perdagangan pada Kamis (21/05) sore, IHSG ditutup melemah 223,56 poin atau 3,54 persen ke posisi 6.094,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 14,28 poin atau 2,26 persen ke posisi 616,40.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor terkoreksi yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 6,96 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor barang konsumen non primer yang turun masing-masing sebesar 6,74 persen dan 5,70 persen.

Adapun, frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.145.783 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,77 miliar lembar saham senilai Rp18,49 triliun. Sebanyak 88 saham naik, 663 saham menurun, dan 69 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG melemah ke 6.094,94 tertekan saham basic materials dan energi

Baca juga: Analis ungkap sentimen pemicu pelemahan IHSG

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya