Jakarta, CNN Indonesia --
Pilot Flydubai yang mencoba menjatuhkan pesawat menuju Israel disebut ingin meniru serangan 9/11 yakni menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion dan gedung-gedung di Tel Aviv.
Seorang pejabat Timur Tengah mengatakan kepada NBC News bahwa sang pilot, Hamman Al Hammami, mengaku kepada para penyelidik pada Senin (5/10) bahwa ia berniat menabrakkan pesawat yang dibawanya ke bandara utama Israel atau gedung-gedung lain di ibu kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Identitas sang pilot hingga kini belum dirilis secara resmi. Namun, beberapa sumber dari tiga lembaga yang diberi informasi tentang penyelidikan dan seorang diplomat Timur Tengah mengatakan bahwa sang pilot merupakan warga Oman bernama Al Hammami.
Saat ini, ia sedang diinterogasi oleh para penyelidik di Uni Emirat Arab setelah dipindahkan dari Arab Saudi. Penerbangan Flydubai dari Dubai ke Tel Aviv sendiri gagal menuju Tel Aviv imbas percobaan pembajakan. Pesawat berakhir mendarat darurat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi.
Kapten Smit Machchhar merupakan pilot lain yang terluka selama insiden tersebut. Ia diserang dengan kapak saat Al Hammami mencoba mengambil alih kendali pesawat.
Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pilot berkewarganegaraan India tersebut mengatakan bahwa Al Hammami sempat berkata padanya bahwa dia akan salat. Saat itu, ia tak curiga karena umat Muslim salat lima kali sehari.
Beberapa menit setelahnya, ia merasakan pukulan keras di kepala.
"Karena pukulan awal itu, penglihatan saya hampir hilang sepenuhnya, semuanya kabur," katanya.
"Perasaan selanjutnya yang saya rasakan adalah pesawat menukik tajam," lanjutnya.
Pesawat yang membawa 174 penumpang tersebut jatuh 14.000 kaki hanya dalam 29 detik. Situasi itu membuat penumpang yang sebagian besar warga Israel panik bukan main.
Awalnya, Machchhar mengira ada "kerusakan parah pada pesawat". Tapi begitu pukulan keras terus menghantamnya, ia menyadari bahwa bukan pesawatnya yang bermasalah, melainkan orang lain yang berada di kokpit bersamanya.
The Wall Street Journal pekan lalu melaporkan bahwa Al Hammami sebelumnya dilarang terbang oleh Oman karena kekhawatiran bahwa ia menganut pandangan ideologis radikal.
Tidak jelas bagaimana warga negara Oman, yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, diizinkan menerbangkan pesawat yang membawa warga Israel ke Tel Aviv.
Menurut hukum Israel, maskapai penerbangan wajib memberikan informasi tentang penumpang dan awak kabin, termasuk nama dan kewarganegaraan mereka, paling lambat 48 jam sebelum penerbangan.
(blq/rds)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·