Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah perusahaan perkebunan Malaysia dan Singapura masuk dalam laporan investigasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut dikaitkan dengan konsesi lahan yang ditemukan memiliki titik api, tetapi belum dinyatakan bersalah memicu kebakaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan yang dirilis Greenpeace Indonesia, Greenpeace Malaysia, dan Pantau Gambut pada Senin (5/10) mengidentifikasi setidaknya satu perusahaan Malaysia dan empat konsesi yang terkait dengan perusahaan berbasis di Singapura.
Namun, laporan tersebut tidak secara langsung menuduh perusahaan-perusahaan itu sebagai penyebab kebakaran di Sumatra dan Kalimantan Barat. Laporan itu juga tidak menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan pelanggaran hukum.
Sebelumnya, pihak berwenang Indonesia belum mengungkap identitas maupun kewarganegaraan 19 perusahaan yang tengah diselidiki terkait kebakaran yang menghanguskan 11.047 hektare lahan di tujuh provinsi.
Konsul Jenderal Indonesia di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiyanto, mengatakan pemerintah telah mengidentifikasi 57 perusahaan di delapan provinsi dalam upaya penindakan terhadap karhutla, lapor News Straits Times.
Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia mengaitkan perusahaan-perusahaan tersebut dengan pembakaran terbuka yang mencakup area seluas 33.514 hektare.
Pihak berwenang juga mencatat 97 laporan polisi yang melibatkan perusahaan dan tengah menyelidiki 46 tersangka, termasuk lima perusahaan.
Kementerian Kehutanan juga telah menjatuhkan sanksi administratif kepada 26 perusahaan. Sanksi tersebut meliputi pencabutan lima izin, penangguhan 13 izin, serta pemberian peringatan tertulis atau perintah pemulihan kepada delapan perusahaan.
Persoalan karhutla di Indonesia turut menjadi perhatian Malaysia karena kebakaran tersebut memperburuk kabut asap lintas batas.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah menyatakan kesediaannya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mengatasi persoalan tersebut.
Pada Kamis (8/10), PM Datuk Seri Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah setuju untuk mengatasi kabut asap yang semakin parah, ketika Malaysia memperbarui seruan untuk kerja sama regional yang lebih kuat.
Sebelumnya, Anwar sempat menelepon Prabowo membahas persoalan karhutla pada Kamis (8/10). Dikutip bernama, Prabowo menyatakan kesiapannya dalam percakapan itu untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mengatasi situasi penyebab kabut asap di Malaysia.
"Masalah kabut asap ini memang mengkhawatirkan. Saya secara pribadi menghubungi Presiden Prabowo, dan beliau setuju untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan," kata Anwar.
Pernyataan itu disampaikan Anwar, yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia, kepada wartawan setelah meninjau persiapan penyampaian Anggaran 2027 di Kementerian Keuangan.
(mge/bac)

48 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·