REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis dan Inggris untuk pertama kalinya menggelar latihan udara bersama yang menyimulasikan serangan menggunakan senjata nuklir. Pesawat tempur Rafale milik Angkatan Udara dan Antariksa Prancis terbang dengan pengawalan jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dalam operasi di atas Laut Mediterania.
Manuver bersejarah ini menandai babak baru kerja sama militer dua negara pemilik persenjataan nuklir di Eropa, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia dan ketidakpastian jaminan keamanan Amerika Serikat.
Kementerian Pertahanan Inggris dan Prancis mengumumkan latihan tersebut pada Jumat (23/10/2026). Operasi dengan nama sandi Rummy itu berlangsung pada 20–21 Oktober 2026, dengan misi utama berupa simulasi serangan nuklir yang dilaksanakan Rafale Prancis di bawah perlindungan pesawat tempur Inggris.
Dalam latihan tersebut, pesawat-pesawat tempur diberangkatkan dari Pangkalan Udara Saint-Dizier di timur laut Prancis. Rafale yang menjadi bagian dari kekuatan udara strategis Prancis menjalankan skenario serangan nuklir, sementara Typhoon Inggris bertugas memberikan pengawalan untuk mendukung keberhasilan misi.
Meski menyimulasikan penggunaan persenjataan nuklir, latihan ini tidak melibatkan senjata nuklir sungguhan. Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan seluruh kegiatan berlangsung dengan prosedur keselamatan dan keamanan yang ketat.
Reuters pada Jumat (23/10/2026) melaporkan, latihan tersebut memperlihatkan peningkatan koordinasi militer London dan Paris ketika negara-negara Eropa menghadapi ancaman keamanan dari Rusia serta mempertanyakan kepastian komitmen pertahanan Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutunya.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Prancis Jenderal Fabien Mandon mengungkapkan, latihan itu juga melibatkan pesawat pengisian bahan bakar udara Airbus A330 MRTT. Pesawat tanker tersebut merupakan unsur pendukung penting bagi operasi udara jarak jauh karena memungkinkan pesawat tempur memperoleh tambahan bahan bakar selama penerbangan.
Menurut laporan Defense News, Mandon menyatakan awak pesawat kedua negara memperlihatkan tingkat interoperabilitas yang sangat tinggi sekaligus kemampuan mengoordinasikan operasi secara efektif.
Menteri Angkatan Bersenjata dan Urusan Veteran Prancis Catherine Vautrin menyebut keterlibatan pesawat tempur Inggris sebagai tonggak penting hubungan pertahanan kedua negara.
"Memiliki kekuatan nuklir yang independen tidak menutup kemungkinan dilakukannya koordinasi," kata Vautrin sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (23/10/2026).
Ia menegaskan bahwa kerja sama nuklir Prancis dan Inggris terus berkembang. Keterlibatan Typhoon dalam latihan bersama Rafale menunjukkan kemampuan kedua negara meningkatkan koordinasi kekuatan strategis tanpa harus menyatukan kendali atas persenjataan nuklir masing-masing.
"Melalui koordinasi, kekuatan nuklir kita menunjukkan bahwa keduanya dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap keamanan aliansi secara keseluruhan serta perdamaian dan stabilitas kawasan Euro-Atlantik," ujar Vautrin dalam pernyataan yang dipublikasikan Kementerian Pertahanan Inggris.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyampaikan penilaian senada. Menurut dia, latihan Rummy memperlihatkan perkembangan penting hubungan pertahanan nuklir antara London dan Paris.
"Latihan ini menandai babak baru dalam hubungan pertahanan nuklir antara Inggris dan Prancis," kata Streeting.
Ia menegaskan, kedua negara mempunyai tanggung jawab bersama menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Euro-Atlantik. Kerja sama tersebut sekaligus menunjukkan kredibilitas penangkalan nuklir kedua negara dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.
"Di dunia yang semakin berbahaya, pihak-pihak yang menjadi ancaman bagi kami tidak boleh meragukan bahwa Inggris dan Prancis tetap bersatu dalam komitmen terhadap keamanan Eropa," ujar Streeting.
Rafale Pembawa Rudal Nuklir, Typhoon Bertugas Mengawal
Salah satu aspek terpenting latihan Rummy adalah pembagian peran antara Rafale Prancis dan Typhoon Inggris. Kedua pesawat tempur itu tidak menjalankan fungsi yang sama dalam simulasi serangan nuklir tersebut.
Rafale merupakan bagian dari sistem penangkalan nuklir strategis Prancis. Sementara itu, Typhoon Inggris bertugas memberikan perlindungan udara menggunakan kemampuan tempur konvensional, bukan membawa ataupun meluncurkan senjata nuklir.
Prancis mengoperasikan Rafale B berkursi ganda dalam Forces aériennes stratégiques (FAS), satuan angkatan udara strategis yang bertanggung jawab atas komponen penangkalan nuklir berbasis udara.
Rafale B mampu membawa rudal jelajah udara-ke-permukaan berhulu ledak nuklir, termasuk ASMPA-R (Air-Sol Moyenne Portée Amélioré Rénové), versi modernisasi rudal jelajah strategis Prancis.
Kemampuan tersebut telah dibuktikan dalam pengujian pada 22 Mei 2024. Ketika itu, Kementerian Pertahanan Prancis mengumumkan keberhasilan peluncuran rudal ASMPA-R dari Rafale B dalam operasi bernama Durandal.
Rudal yang diluncurkan tidak membawa hulu ledak nuklir. Namun, keseluruhan penerbangan dirancang untuk merepresentasikan misi serangan strategis, dengan melibatkan pesawat tanker A330 Phénix serta menghadapi simulasi ancaman udara-ke-udara dan darat-ke-udara.
Pengujian itu menjadi bagian dari modernisasi sistem persenjataan nuklir Prancis sebelum kehadiran rudal generasi berikutnya, ASN4G, yang diproyeksikan mulai hadir sekitar 2035.
Dalam latihan Rummy, Rafale kembali menjalankan skenario serangan strategis, tetapi dengan kehadiran pesawat tempur Inggris sebagai pengawal.
Media khusus penerbangan militer The Aviationist melaporkan, Typhoon RAF melaksanakan peran defensive counter-air escort, yakni misi pengawalan untuk melindungi pesawat pelaksana serangan dari ancaman udara lawan.
Fungsi tersebut menjadi penting karena pesawat pembawa persenjataan strategis harus mampu mempertahankan jalur penerbangan menuju posisi pelaksanaan misi. Ancaman pesawat pencegat lawan dapat mengganggu operasi sebelum pesawat pelaksana misi mencapai posisi yang direncanakan.
Menurut The Aviationist, dalam latihan yang hanya melibatkan kekuatan Prancis, tugas pengawalan semacam itu biasanya dapat dilaksanakan Rafale C berkursi tunggal. Dalam Rummy, fungsi tersebut dijalankan oleh Typhoon Inggris.
Foto-foto latihan yang dianalisis media tersebut memperlihatkan setidaknya satu Typhoon membawa rudal udara-ke-udara jarak pendek ASRAAM dan tangki bahan bakar eksternal. Konfigurasi itu sejalan dengan peran pengawalan udara yang diberikan kepada pesawat tempur Inggris.
Namun, tidak ada keterangan resmi yang menunjukkan Typhoon membawa persenjataan nuklir atau ikut menjalankan simulasi peluncuran rudal nuklir. Pesawat Inggris menjalankan fungsi pendukung konvensional dalam latihan yang melibatkan komponen nuklir Prancis.
Perubahan Besar bagi Pasukan Strategis Prancis
Keterlibatan Inggris memperoleh perhatian khusus kalangan pengamat pertahanan karena menyangkut salah satu unsur paling sensitif dalam organisasi militer Prancis.
Analis senior Fondation pour la Recherche Stratégique, Étienne Marcuz, menggambarkan keterlibatan Typhoon sebagai perubahan besar bagi FAS. Menurut dia, sejak dibentuk pada dekade 1960-an, pasukan udara strategis Prancis terbiasa menjalankan operasi dengan mengandalkan kemampuan nasional.
"Ini merupakan revolusi bagi Pasukan Udara Strategis, yang selalu beroperasi dengan otonomi penuh sejak pembentukannya pada 1960-an," kata Marcuz dalam pernyataan di media sosial X yang dikutip The Aviationist, Jumat (23/10/2026).
Namun, Marcuz juga mencatat bahwa dua Rafale B FAS sebelumnya pernah melaksanakan latihan bersama dua Eurofighter Jerman pada musim panas 2026.
Dengan demikian, Rummy bukan kali pertama unsur udara strategis Prancis berlatih bersama pesawat tempur negara lain. Keistimewaannya terletak pada partisipasi perdana pesawat tempur RAF dalam latihan yang secara khusus melibatkan kemampuan penangkalan nuklir udara Prancis.
Media pertahanan AeroTime menyebut perkembangan itu memperlihatkan perubahan bentuk kerja sama Inggris-Prancis, dari koordinasi kebijakan dan pengamatan latihan menjadi keterlibatan langsung dalam operasi udara bersama.
Pada Desember 2025, pejabat Inggris bahkan telah memperoleh kesempatan mengamati latihan nuklir Prancis bernama Poker. Keterangan resmi pemerintah Inggris pada 18 Desember 2025 menyebut kegiatan tersebut sebagai pertama kalinya pejabat asing memperoleh akses untuk mengamati demonstrasi komponen penangkalan nuklir udara strategis Prancis.
Latihan Poker merupakan salah satu kegiatan rutin Prancis untuk mempertahankan kesiapan unsur penangkalan nuklir berbasis udara. Sementara itu, Rummy memperlihatkan keterlibatan langsung unsur tempur Inggris sebagai bagian dari formasi pendukung misi strategis tersebut.
Perkembangan ini mencerminkan perubahan penting dalam hubungan militer kedua negara. Inggris tidak lagi hanya menerima penjelasan atau mengamati kesiapan nuklir udara Prancis, tetapi mulai menjalankan peran operasional yang terintegrasi dengan misi latihan kekuatan strategis sekutunya.

10 jam yang lalu
4






English (US) ·
Indonesian (ID) ·