Pertama dalam Sejarah, 6 Jet Siluman F-35 AS Ikuti Latihan Tempur di India

17 jam yang lalu 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Angkatan Udara Amerika Serikat mulai memasuki fase operasional latihan udara multinasional Tarang Shakti 2026 di Jodhpur, India. Momentum ini mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya pesawat tempur generasi kelima Amerika tersebut mengikuti latihan militer dari pangkalan udara India bersama pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara India (IAF).

Enam F-35 Lightning II bersama lebih dari 200 personel Amerika Serikat telah tiba di Jodhpur, Rajasthan. Kedatangan armada tersebut dikonfirmasi Duta Besar Amerika Serikat untuk India Sergio Gor menjelang dimulainya rangkaian latihan yang berlangsung hingga 12 Oktober 2026. Sebagaimana diberitakan The Tribune pada Ahad, 27 September 2026, F-35 sebelumnya pernah hadir dalam pameran kedirgantaraan di India, tetapi belum pernah datang ke negara itu untuk mengikuti latihan militer.

Fase operasional Tarang Shakti kini telah dimulai di Air Force Station Jodhpur. Sebagaimana diberitakan DD News pada Ahad, 27 September 2026, latihan bertema “Power in Partnership” tersebut mempertemukan Angkatan Udara India dengan kekuatan udara dari tujuh negara asing untuk menjalani pelatihan bersama, bertukar pengalaman operasi, dan meningkatkan kemampuan bekerja dalam satu lingkungan tempur.

Amerika Serikat membawa F-35, sementara Prancis mengerahkan Rafale dan Uni Emirat Arab membawa F-16. Platform asing lainnya mencakup A400M, MRTT, C-130, C-130J, dan KC-30A, sedangkan India mengerahkan sejumlah pesawat tempur utamanya untuk beroperasi bersama kekuatan udara negara-negara peserta.

Kehadiran F-35 membuat latihan tahun ini memiliki bobot strategis tersendiri bagi New Delhi. India hingga kini belum mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima, sementara China terus mengembangkan kekuatan udara silumannya.

Sebagaimana diberitakan Air Force Times pada Jumat, 25 September 2026, latihan bersama F-35 memberi Angkatan Udara India pengalaman langsung menjalankan misi taktis bersama pesawat siluman canggih. Pengalaman itu dapat memberi gambaran mengenai bagaimana pesawat generasi kelima mengintegrasikan data sensor, bekerja sebagai bagian dari kekuatan yang terhubung dalam jaringan, dan mempersulit pendeteksian radar lawan.

India sendiri mengerahkan sejumlah tulang punggung kekuatan udaranya, termasuk Rafale, Su-30MKI, Tejas, Mirage 2000, Jaguar, dan MiG-29. Lebih dari 80 pesawat India dan asing serta sekitar 1.500 personel terlibat dalam Tarang Shakti 2026.

Sebagaimana diberitakan Hindustan Times pada Sabtu, 26 September 2026, Tarang Shakti mencakup pertempuran udara dalam dan di luar jarak pandang, pengerahan kekuatan besar yang melibatkan aset udara bernilai tinggi, mobilitas udara, penentuan sasaran dinamis, pengisian bahan bakar di udara, serta operasi pencarian dan penyelamatan tempur. Amerika Serikat membawa enam F-35 ke Jodhpur untuk latihan tersebut.

Artinya, kehadiran F-35 kali ini berbeda dengan penampilannya dalam Aero India. Jet siluman Amerika tersebut tidak sekadar diparkir untuk dipamerkan kepada publik dan pejabat pertahanan, tetapi masuk ke lingkungan latihan bersama yang dirancang untuk menguji kemampuan berbagai platform, personel, dan doktrin operasi.

F-35 sebelumnya tampil dalam Aero India 2023 dan 2025 di Bengaluru. Angkatan Udara India juga pernah berada dalam lingkungan latihan bersama F-35 pada latihan Pitch Black di Australia. Namun Tarang Shakti 2026 menjadi pertama kalinya pesawat tersebut menjalankan latihan bersama kekuatan udara India dari pangkalan di wilayah India. Sebagaimana diberitakan Air Force Times pada Jumat, 25 September 2026, inilah yang membedakan Tarang Shakti dengan interaksi India dan F-35 sebelumnya.

Belajar dari Pesawat Siluman

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara India Marsekal Udara Ashutosh Dixit mengatakan Tarang Shakti tidak dirancang sekadar untuk memperlihatkan kemampuan yang telah dimiliki masing-masing negara. Latihan justru menjadi tempat untuk mengetahui kekurangan, menguji asumsi, dan mempelajari pendekatan operasi udara yang berbeda.

“Kami tidak menyelenggarakan Tarang Shakti untuk menunjukkan apa yang sudah kami ketahui. Kami menyelenggarakannya untuk menemukan apa yang masih perlu kami pelajari,” kata Dixit, sebagaimana diberitakan Air Force Times pada Jumat, 25 September 2026.

Menurut Dixit, masing-masing negara membawa pengalaman operasionalnya sendiri. Mempertemukan pengalaman tersebut dalam lingkungan latihan realistis memungkinkan angkatan udara peserta menguji asumsi, menantang prosedur yang telah digunakan, memahami metode berbeda dalam mengerahkan kekuatan udara, serta meningkatkan interoperabilitas.

Pernyataan tersebut penting karena peperangan udara modern tidak lagi sekadar mempertemukan satu pesawat tempur dengan pesawat lainnya. Radar, sensor, peperangan elektronik, pesawat peringatan dini, pengisian bahan bakar udara, satelit, jaringan komunikasi, pertahanan udara, dan kemampuan berbagi data telah menjadi bagian dari satu ekosistem pertempuran.

Baca Artikel Selengkapnya