Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak menguat 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.713 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.763 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyampaikan bahwa pergerakan rupiah dibayangi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi serangan balasan antara US dan Iran di kawasan tersebut.
"Meningkatnya ketegangan tersebut memicu meningkatnya skeptisisme investor terhadap perkembangan negosiasi perdamaian," ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Sputnik, militer Iran menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat yang berada di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Irak untuk membalas serangan mematikan AS di sebuah acara pernikahan di negara Republik Islam itu.
Anadolu mengungkapkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) sejak Selasa (1/9/2026) malam mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sasaran IRGC di Iran.
Setelah pengumuman tersebut, media Iran melaporkan ledakan di Pulau Qeshm serta Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan Konarak.
"Ketidakpastian yang lebih tinggi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak," ucap Josua.
Berdasarkan faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.700-Rp17.825 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi menguat jadi Rp17.713 per dolar AS
Baca juga: Rupiah melemah dipengaruhi kenaikan imbal hasil treasury AS
Baca juga: Rupiah pada Rabu pagi melemah jadi Rp17.774 per dolar AS
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·