Perang Iran Tekan Militer AS, Hegseth Siapkan Enam Reformasi

42 menit yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran mulai memperlihatkan dampak terhadap kemampuan militer Washington mempertahankan persediaan persenjataannya. Di tengah kekhawatiran menipisnya stok rudal pencegat dan meningkatnya ancaman drone, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengajukan kebutuhan pendanaan sekitar 50 miliar dolar AS untuk mempercepat produksi senjata otonom. Langkah itu menjadi bagian dari transformasi besar militer Amerika yang mencakup enam program reformasi pertahanan.

Hegseth mengungkapkan kebutuhan anggaran tersebut ketika berbicara dalam pertemuan tahunan Association of the United States Army (AUSA) di Washington, Rabu, 14 Oktober 2026. Sebagaimana diberitakan Defense News pada hari yang sama, Pentagon berencana memperbesar persediaan sistem persenjataan otonom dari ribuan menjadi jutaan unit dalam beberapa tahun mendatang.

"Pada akhirnya, kita akan berhadapan dengan ratusan ribu sistem serangan satu arah pada tahun ini dan jutaan unit pada tahun-tahun mendatang, dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan departemen ini sebelumnya," kata Hegseth sebagaimana dikutip Defense News, Rabu, 14 Oktober 2026.

Sehari sebelumnya, tekanan terhadap persenjataan Amerika juga terlihat dari laporan mengenai keterlambatan pengiriman rudal pertahanan udara Patriot kepada Polandia. Reuters pada Senin, 12 Oktober 2026, memberitakan bahwa Panglima Operasional Angkatan Bersenjata Polandia, Jenderal Ireneusz Nowak, memperkirakan pengiriman rudal pencegat PAC-3 MSE akan tertunda karena persediaan senjata Amerika semakin terbebani perang Iran.

"Pada tahap ini, tampaknya kami juga akan terdampak. Hal itu sangat terlihat pada rudal Patriot PAC-3 MSE. Pengirimannya dipastikan akan mengalami keterlambatan," kata Nowak dalam diskusi Warsaw Security Forum, sebagaimana dikutip Reuters.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa dampak perang Iran tidak terbatas pada operasi militer Amerika di Timur Tengah. Penggunaan persenjataan dalam jumlah besar turut memengaruhi komitmen pengiriman senjata Washington kepada negara-negara sekutunya, termasuk anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Trump Bangun Fasilitas Senjata Masa Depan

Pada perkembangan terbaru lainnya, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pengujian persenjataan canggih berskala besar di negara bagian Montana. Pengumuman disampaikan dalam kampanye di Kalispell, Rabu, 14 Oktober 2026, dan diberitakan Reuters pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Fasilitas yang disebut Trump sebagai *super range* tersebut direncanakan menjadi lokasi pengujian senjata otonom, sistem teknologi antariksa, peperangan elektronik, serta persenjataan supersonik dan hipersonik. Program itu memperlihatkan keinginan pemerintahan Trump mempercepat pengembangan teknologi peperangan generasi berikutnya.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa di Montana ini, Departemen Pertahanan akan membangun fasilitas pengujian besar untuk persenjataan dan teknologi canggih, termasuk kemungkinan senjata otonom, teknologi antariksa, peperangan elektronik, serta sistem supersonik dan hipersonik," ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters, Kamis, 15 Oktober 2026.

"Montana akan membantu memastikan militer Amerika selalu menjadi yang terunggul," katanya.

Namun, Reuters mencatat Trump belum menjelaskan apakah proyek tersebut berkaitan dengan fasilitas pengujian pertahanan yang sebelumnya sudah ada di Montana. Belum ada pula penjelasan bahwa fasilitas baru tersebut merupakan bagian langsung dari rencana pembangunan pangkalan militer baru yang diumumkan Hegseth.

Pengumuman Trump muncul sekitar dua pekan setelah Hegseth memperkenalkan enam inisiatif reformasi militer dalam pidato bertajuk *State of the Force* di Marine Corps Base Quantico, Virginia, Rabu, 30 September 2026. Keenam inisiatif tersebut mencakup modernisasi teknologi persenjataan, pembangunan infrastruktur pertahanan, dan penguatan sumber daya manusia militer.

Associated Press (AP) pada Rabu, 30 September 2026, melaporkan bahwa pengumuman reformasi tersebut berlangsung ketika militer Amerika telah memasuki bulan ketujuh perang dengan Iran. Konflik yang dimulai melalui serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 itu belum menghasilkan penyelesaian politik yang jelas.

Meskipun Washington mengklaim telah menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran, Teheran masih mampu melancarkan serangan drone dan rudal secara berkala. Iran juga tetap menjadi ancaman terhadap kapal komersial dan militer yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.

Persediaan Rudal Patriot Menipis

Tekanan terhadap persediaan persenjataan Amerika telah menjadi perhatian sejak beberapa bulan terakhir. Associated Press dalam investigasi yang diterbitkan Kamis, 27 Agustus 2026, melaporkan bahwa persediaan rudal pencegat Patriot milik militer Amerika di Eropa berada dalam kondisi yang dinilai sangat mengkhawatirkan oleh sejumlah pejabat pertahanan.

Seorang pejabat pertahanan Amerika di Eropa dan seorang pejabat NATO mengatakan kepada AP bahwa penggunaan rudal pencegat untuk menghadapi serangan Iran telah mengurangi kemampuan pertahanan udara yang tersedia bagi pasukan Amerika dan sekutunya di Eropa. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena membahas persoalan sensitif terkait kesiapan militer.

Baca Artikel Selengkapnya