Penjajah Israel Usir 336 Bayi dari Hebron 

39 menit yang lalu 2

TEPI BARAT – Pasukan penjajah Israel pada hari Jumat terus melancarkan agresi mereka terhadap kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki untuk hari kedelapan berturut-turut. Sementara jumlah pengungsi akibat aksi itu terus bertambah.

WAFA mengutip saksi mata melaporkan bahwa pasukan penjajah mengerahkan bala bantuan militer tambahan, disertai dengan unit-unit zeni, ke wilayah Deir Bahha, yang telah ditutup dan dikepung oleh pasukan pendudukan sejak Jumat lalu.

Mereka menambahkan bahwa pasukan pendudukan menggerebek rumah seorang warga Palestina yang dituduh melakukan serangan penembakan di wilayah Farsh al-Hawa pekan lalu. Pasukan tersebut mulai melakukan penggalian dan pembongkaran di dalam rumah itu, serta memaksa lebih banyak keluarga untuk meninggalkan rumah mereka di wilayah tersebut.

Sementara itu, pasukan pendudukan menyerbu beberapa lingkungan di Hebron dan desa al-Rihiya di sebelah selatan, menahan tiga warga Palestina—termasuk seorang mantan tahanan—serta memukuli mereka dengan brutal.

Selama delapan hari berturut-turut, pasukan pendudukan terus menutup rapat seluruh akses masuk dan keluar Hebron, serta menutup wilayah al-Jilda dan Deir Bahha. Mereka juga terus melakukan penggerebekan dari rumah ke rumah setiap harinya, melakukan penggeledahan menyeluruh, dan menimbulkan kerusakan.

Aljazirah mengungkap, pengepungan Israel tidak hanya melumpuhkan pergerakan warga, tetapi juga menimbulkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang serius di salah satu kota terbesar di Tepi Barat tersebut.

Data Pemerintah Kota Hebron yang dianalisis Aljazirah menunjukkan, sebanyak 780 keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Jumlah tersebut setara dengan sekitar dua persen dari total populasi Hebron yang mencapai 250 ribu jiwa.

Kelompok rentan menjadi bagian besar dari warga yang terusir. Mereka terdiri atas 441 lansia, 336 bayi berusia di bawah dua tahun, dan 312 orang dengan penyakit kronis. Selain itu, terdapat lebih dari 200 perempuan hamil dan menyusui serta 44 penyandang disabilitas.

Wali Kota Hebron Yousef al-Jabari mengatakan, ribuan warga dipaksa meninggalkan rumah mereka. Kondisi semakin memilukan karena sejumlah keluarga harus mengungsi pada tengah malam.

"Ribuan warga dipaksa keluar dari rumah mereka, dan dunia menyaksikan anak-anak menangis setelah tengah malam," kata al-Jabari kepada Aljazirah.

Dalam keterangannya kepada Anadolu Agency, dia menggambarkan Hebron tengah menghadapi pengepungan besar-besaran dan hukuman kolektif.

Jumlah pengungsi meningkat tajam dalam waktu singkat. Pada 24 Oktober lalu, al-Jabari masih menyebut sekitar 2.200 orang telah mengungsi. Angka tersebut kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari.

Kamar Dagang Hebron memperkirakan kerugian langsung akibat penutupan di kota tersebut berkisar antara 10 hingga 12 juta shekel per hari, termasuk sekitar satu juta shekel di sektor produk susu saja.

Serangan ini juga mengganggu kegiatan pendidikan bagi sekitar 262.000 siswa di 589 sekolah di seluruh wilayah tersebut selama pekan lalu, sementara ribuan siswa di daerah yang terkepung dan terdampak pengungsian masih belum dapat menjangkau sekolah mereka.

Di sisi lain, Komite Dukungan dan Bantuan (Support and Relief Committee) mengumumkan bahwa mereka telah memverifikasi data dari 537 keluarga yang terdampak, yang mencakup 3.361 orang. Jumlah tersebut mencakup 232 bayi, 1.193 anak berusia antara dua hingga 17 tahun, 326 lansia, 147 perempuan hamil dan menyusui, 32 penyandang disabilitas, serta 213 orang yang menderita penyakit kronis.

Baca Artikel Selengkapnya