Pemilu Israel Digelar Besok, Siapa Saja Pesaing Netanyahu?

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Israel akan menggelar pemilihan umum besok, Selasa (27/10). Partai atau koalisi yang mengantongi mayoritas suara dalam pemilu nanti berhak menentukan perdana menteri.

Di hari H nanti, warga Israel akan memilih berdasarkan daftar partai bukan kandidat individu. Nantinya, partai yang menentukan siapa saja yang bisa duduk di kursi parlemen (Knesset).

Kursi parlemen dibagikan menggunakan sistem proporsional murni berdasarkan hasil pemilihan. Anggota parlemen yang terpilih kemudian berhak menentukan perdana menteri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pemilu kali ini ada 37 partai yang berpartisipasi termasuk partai pimpinan Netanyahu, Likud.

Meski demikian, tak semua partai bisa lolos ke Knesset. Israel menerapkan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen. Artinya, partai harus mendapat minimal di angka itu dari total seluruh suara nasional.

Menjadi partai dengan suara terbesar saja juga tak cukup untuk menang. Seorang perdana menteri membutuhkan 61 kursi guna membentuk pemerintahan, dan belum pernah ada partai yang memenangkan mayoritas tersebut sendirian.

Setelah pemilu, partai akan sibuk mencari koalisi dan ini bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

"Ada banyak isu yang akan membuat pembentukan koalisi menjadi sangat sulit," kata peneliti di lembaga think tank Council on Foreign Relation (CFR) Elliot Abrams, dikutip laman resmi CFR.

Kesulitan itu bisa berasal dari isu seperti apakah partai Arab ada dalam koalisi baru atau dikucilkan, apakah keinginan kelompok ultra-orotodoks untuk tak ikut serta wamil dipenuhi atau tidak, haruskah tokoh oposisi menyetujui koalisi pimpinan Netanyahu jika mengecualikan sayap kanan ekstrem?

Abrams memandang komposisi partai menjelang pemilihan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Jajak pendapat juga menunjukkan arah politik dan masa depan Israel bisa penuh dengan ketidakpastian.

Lalu, siapa saja calon kandidat kuat PM Israel?

Benjamin Netanyahu

Benjamin Netanyahu tetap menjadi calon kandidat kuat Perdana Menteri Israel.

Dalam sejarah pemilu di negara itu, partai yang saat ini dipimpin Netanyahu, Likud, menang selama 9 kali dari total 17 kali pemilu yang diikuti. Israel telah menggelar pemilihan umum sebanyak 25 kali.

Jika Likud dan koalisinya meraih banyak suara dan menguasai parlemen, jalan Netanyahu kembali menjadi PM sangat terbuka lebar.

Namun, sejumlah pakar menilai koalisi Netanyahu juga tak setangguh dulu. Koalisi Netanyahu di pemerintahan ini mulanya terdiri dari Otzma Yehudit pimpinan Menteri Kemanan Nasional Itamar Ben Gvir, partai Shas Aryeh Deri, Partai Zionisme Religius pimpinan Bezalel Smotrich.

Namun, aliansi itu tak statis. Pada 2025, Gvir menarik diri dari koalisi usai Netanyahu sepakat gencatan senjata dengan Hamas. Kemudian pada September 2026, Smotrich membentuk aliansi baru dengan Partai Zehut.

Gadi Eisenkot

Eisenkot disebut-sebut menjadi pesaing terkuat Netanyahu. alam jajak pendapat terbaru Channel 12 menunjukkan Yashar diprediksi lebih unggul dibanding Likud dengan perolehan 23 kursi dibanding 2q kursi.

Survei lain yang pro Netanyahu, Channel 14, menyebut Likud kemungkinan akan meraih 30 kursi dan EIsenkot 20 kursi.

Eisenkot juga merupakan pendiri Partai Yashar. Dia membentuk partai setelah memutuskan keluar dari anggota parlemen pada Juli 2025 dan keluar dari aliansi National Unity pimpinan Benny Gantz.

Naftalli Bennet

Nama Naftalli Bennet juga masuk dalam bursa calon perdana menteri. Dia sebelumnya pernah menjadi PM Israel pada Juni 2021 hingga Juni 2022.

Tahun lalu, Bennet membentuk partai sendiri dengan nama Bennett 2026. Kemudian pada April tahun ini, partai tersebut sepakat melebur dan berkoalisi dengan partai milik Yair Lapid, Yesh Atid.

Aliansi tersebut lalu didaftarkan ke komite pemilu dengan nama Beyachad. Aliansi ini memosisikan diri sebagai gerakan Zionis Liberal sayap kanan tengah dan fokus melakukan reformasi wajib militer agar kelompok ultra-ortodoks ikut berpartisipasi dan menurunkan biaya hidup.

Yair Golan

Yair Golan juga masuk sebagai kandidat pesaing Netanyahu. Eks Kepala Staf di Angkatan Pertahanan Israel (IDF) itu membentuk Partai Demokrat.

Avigdor Lieberman

Lieberman adalah tokoh sayap kanan yang sangat vokal dan menantang Netanyahu. Dia juga disebut-sebut mengincar posisi strategis dalam pemerintahan.

Lieberman membentuk Partai Israel Beytenu pada 1999. Partai ini mulanya dibentuk agar menjadi wadah politik dan mewakili kepentingan imigran yahudi berbahasa Rusia yang baru pindah ke Israel.

(isa/dna)

Baca Artikel Selengkapnya