Pembiayaan Bank Mega Syariah capai Rp10,38 triliun hingga Agustus 2026

1 bulan yang lalu 22
sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah karena memiliki fundamental yang kuat dan kebutuhan yang stabil

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Syariah mencatat total pembiayaan yang disalurkan perseroan hingga Agustus 2026 mencapai Rp10,38 triliun atau tumbuh 12,73 persen secara tahunan (yoy), ditopang oleh pembiayaan komersial sebesar Rp6,23 triliun atau 60,02 persen dari total portofolio.

Lebih lanjut, pembiayaan komersial tersebut terutama didorong oleh sub-segmen corporate banking sebesar Rp4,75 triliun dan business banking sebesar Rp1,49 triliun.

Direktur Bisnis Bank Mega Syariah Rasmoro Pramono Aji atau disapa Oney dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyampaikan sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah karena memiliki fundamental yang kuat dan kebutuhan yang stabil.

Selain itu, perseroan melihat peluang pembiayaan pada sektor infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta industri jasa lainnya yang memiliki prospek usaha cerah, terutama bagi pelaku usaha berorientasi ekspor atau pendapatan berbasis valuta asing.

Sejalan dengan kinerja pembiayaan, Bank Mega Syariah juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp164,95 miliar hingga Agustus 2026, tumbuh 4,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk memperkuat ekosistem keuangan dan ekonomi syariah, Bank Mega Syariah bekerja sama dengan ICMI Orwil DKI Jakarta pada Kamis (17/9) menggelar forum “Outlook Ekonomi Syariah Market Review: Q3-2026, Proyeksi FY 2026 dan 2027”.

Baca juga: Bank Mega Syariah catat pembiayaan konsumer tumbuh 17,7 persen

Baca juga: Laba sebelum pajak Bank Mega Syariah tumbuh 17,56 persen per Juni 2026

Forum ini diselenggarakan sebagai wadah strategis untuk mempertemukan para pelaku usaha, akademisi, dan cendekiawan muslim. Forum juga dihadiri oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal sekaligus Ketua Orwil ICMI DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

Menurut perseroan, kehadiran unsur pemerintah bersama pelaku industri, organisasi profesi, dan akademisi memperluas perspektif pembahasan mengenai peluang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Pembahasan dalam forum juga memperkuat relevansi kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam menghubungkan industri keuangan syariah dengan aktivitas ekonomi produktif di berbagai daerah.

Dengan mempertemukan beragam pemangku kepentingan dalam satu forum, peluang kerja sama dapat dibahas dari sisi pembiayaan, pengembangan usaha, hingga perluasan akses pasar tanpa bergantung pada satu sektor atau institusi saja.

“Bagi Bank Mega Syariah, kolaborasi lintas sektor sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi produktif yang berkelanjutan,” kata Oney.

Ia menambahkan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemangku kepentingan agar gagasan dan solusi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha dan masyarakat.

Melalui forum Outlook Ekonomi Syariah ini, seluruh pihak berdiskusi dan memetakan peluang serta tantangan industri keuangan syariah hingga 2027, mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, industri halal, hingga perkembangan teknologi.

Forum juga diarahkan agar gagasan yang dibahas tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi yang lebih konkret antara industri keuangan syariah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan ekosistem ekonomi desa.

Baca juga: Bank Mega Syariah: Penguatan dolar AS tidak kurangi peluang pembiayaan

Baca juga: Pembiayaan emas Bank Mega Syariah capai Rp43 miliar hingga Mei 2026

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya