Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan dukungan penuh kepada rakyat Palestina. Hal ini disampaikan dalam peringatan Nakba Day Ke-78 yang digelar di Kedutaan Besar Palestina, Jakarta pada Senin (18/5/2026). PBNU juga menyerukan solidaritas umat Islam untuk terus mengawal hak kemerdekaan bangsa Palestina sebagai bentuk komitmen kemanusiaan.
Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) yang hadir mewakili PBNU dan mendengar langsung kisah masa kecil Duta Besar Palestina yang menambah makna peringatan tragedi 1948 bagi bangsa Palestina.
"Dia sendiri dilahirkan bukan pada tahun Nakbah, yang terjadi pada tahun 1948. Dia lahir jauh setelah itu, tapi dia punya memori yang sangat vivid (jelas), sangat kuat," ujar Gus Ulil kepada NU Online.
Gus Ulil menyampaikan bahwa hingga kini bangsa Palestina tetap bertahan menghadapi penjajahan Israel. Dalam bahasa Arab, sikap itu disebut Sumud yang berarti keteguhan untuk terus melawan dan bertahan.
Ia menegaskan, PBNU memandang misi Global Sumud Flotilla sebagai aksi kemanusiaan yang sangat penting. Gerakan dari berbagai negara yang berlayar untuk menyalurkan bantuan ke Gaza itu dinilai sebagai wujud solidaritas internasional bagi rakyat Palestina.
“Kita mendukung seluruh upaya global dalam bentuk apapun, bantuan kemanusiaan, solidaritas kemanusiaan, inisiatif Global Sumud Flotilla yang digagas oleh banyak aktivis dunia untuk membantu Palestina. Kita semua mendukung itu semua,” ungkapnya.
Gus Ulil menyebut, PBNU mendukung semua bentuk solidaritas dan sokongan bagi bangsa Palestina.
Ia menyampaikan bahwa sejak awal, bahkan sebelum berdirinya negara Israel, PBNU sudah menyatakan dukungan penuh kepada Palestina.
“Semua bentuk solidaritas dan sokongan bagi bangsa Palestina, kita dukung semuanya. PBNU sejak awal, bahkan sebelum berdirinya negara Israel, sejak tahun 30-an sudah menyatakan dukungan yang penuh kepada bangsa Palestina, dan saya yakin suatu saat bangsa Palestina akan memiliki negara yang berbeda,” katanya.
Menurutnya, perkembangan menarik belakangan ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Palestina, peristiwa Nakbah mulai dibicarakan secara terbuka dan ditulis oleh banyak tokoh di media Barat.
“Sekarang ini orang berbicara nakbah itu sudah banyak, dan bagi saya ini adalah suatu kemenangan, karena peristiwa nakbah itu selama puluhan tahun disembunyikan oleh Israel,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan bahwa Israel selama bertahun-tahun membangun narasi seolah mereka datang ke tanah Palestina yang tidak berpenduduk. Namun, ia menegaskan bahwa dunia kini mulai mengetahui kenyataan bahwa tanah tersebut telah dihuni, dan ketika Israel berdiri pada Mei 1948 sekitar 750 ribu warga Palestina terusir dari desa-desa mereka.
“Itu narasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun, tapi sekarang bangsa dunia sudah mulai tahu bahwa mereka datang ke tanah yang dihuni oleh penduduk dan ketika Israel berdiri pada Mei 1928, ada sekitar 750 ribu bangsa Palestina yang terusir dari desa-desa mereka,” pungkasnya.
Kontributor: Ahmad Syafiq Sidqi

3 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·