PBB: Israel Blokir Bantuan di 65 Persen Wilayah Gaza

27 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA — Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan, bantuan kemanusiaan terhambat untuk disalurkan ke warga Palestina di Jalur Gaza karena Israel membatasi akses di 65 persen wilayah tersebut. Sedangkan 35 persen wilayah sisanya sudah disesaki penduduk Gaza yang mengungsi.

“Para mitra kemanusiaan kami menekankan bahwa hambatan utama adalah pembatasan akses 65 persen tanah Gaza. Sisa 35 persennya sudah penuh sesak,” kata Dujarric kepada awak media dalam pengarahan pers pada Rabu (30/9/2026), dilaporkan Anadolu Agency.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dan kelompok-kelompok mitra menghadapi kendala ketika mengkaji langkah-langkah darurat untuk melindungi keluarga di Gaza dari hujan musim dingin. Mereka memeriksa tiga zona relokasi potensial untuk tempat penampungan sementara guna membantu keluarga yang memilih meninggalkan tanah rawan banjir di dekat reruntuhan struktural yang berisiko ambrol.

Dujarric mengatakan, secara paralel, tim kemanusiaan sedang mengevaluasi lebih dari 450 kamp pengungsian yang menghadapi bahaya banjir parah. Seluruh kamp tersebut menampung sekitar seperlima populasi Gaza.

Terkait hal itu, Dujarric mengatakan bahwa lokasi baru untuk relokasi warga Gaza harus dipastikan steril dari sisa-sisa ranjau atau senjata peledak lainnya. Tim juga harus meratakan medan berpasir, memasang saluran air, drainase, penerangan, membuka jalan akses, dan menyelesaikan masalah kepemilikan tanah.

Namun, Dujarric mengungkapkan, proses tersebut menghadapi kendala logistik akibat dibatasinya secara ketat pasokan bantuan esensial ke Gaza oleh Israel. Dia mengatakan, PBB dan para mitra kemanusiaan lainnya sangat membutuhkan izin tambahan Israel untuk mengimpor mesin berat, suku cadang, oli mesin, dan persediaan penting lainnya. Termasuk pendanaan untuk bahan bakar darurat serta bahan tahan lama untuk memperbaiki struktur bangunan yang rusak.

Menurut Dujarric, hambatan operasional telah meluas ke pengiriman layanan kesehatan. Hal itu mengakibatkan perawatan, termasuk skrining kesehatan, terdampak. Kesenjangan tetap kritis di seluruh perawatan kanker khusus, termasuk persediaan kemoterapi dan radioterapi penting. Sedangkan sistem diagnostik di fasilitas medis atau rumah sakit tak bisa beroperasi akibat habisnya pasokan bahan bakar. 

Sebelumnya Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Pat Griffiths, mengatakan, meski intensitas konflik telah menurun sejak gencatan senjata tahun lalu, kematian dan kehancuran masih dihadapi warga Palestina di Jalur Gaza setiap harinya. Dia mengingatkan bahwa krisis di sana tetap berlangsung walaupun isu Gaza tak menjadi berita utama.

“Mari kita perjelas: kematian dan kehancuran bagi warga Palestina di Gaza berlanjut setiap hari. Penderitaan itu nyata, hadir dan di sini setiap hari - bahkan ketika Gaza tidak menjadi berita utama,” kata Griffiths ketika diwawancara Anadolu Agency di sela-sela kunjungannya ke Gaza pada 18 September 2026 lalu. 

Baca Artikel Selengkapnya