REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Pasukan AS dijadwalkan menarik diri dari pangkalan-pangkalan terakhir mereka di Irak paling lambat Rabu ini. Langkah penarikan yang dirayakan sebagai kemenangan oleh Iran dan sekutu-sekutunya.
AS menginvasi Irak, melawan keberatan dari PBB pada 2003. Presiden AS George W Bush dan sekutunya Perdana Menteri Inggris Tony Blair kala itu berdalih agresi dilakukan karena Irak yang dipimpin Saddam Hussein disebut memiliki senjata pemusnah masal, hal yang belakangan terbukti kebohongan belaka.
Agresi AS dan sekutunya di Irak membunuh sedikitnya 600 ribu orang merujuk survei Lancet. Sementara kematian tambahan diperkirakan mencapai sejuta jiwa. Sebanyak 4.500 warga Amerika, kebanyakan anggota militer tewas selama lebih dari dua dekade peperangan.
Agresi AS juga memicu lahirnya kelompok ISIS yang anggota awalnya merupakan anggota militer Irak pada 2004. ISIS kemudian melancarkan kampanye pembunuhan brutal hingga ke berbagai negara di Timur Tengah serta melakukan aksi teror di luar kawasan.
Reuters mengutip para pakar keamanan Irak yang menilai bahwa penarikan pasukan ini—yang disepakati pada tahun 2024 di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden dan dilaksanakan oleh pemerintahan Donald Trump bahkan saat mereka sedang berkonfrontasi dengan Iran—dapat memberikan keleluasaan bagi Teheran dan sekutu-sekutunya yang berpengaruh, sekaligus membuka peluang bagi musuh-musuh AS lainnya, termasuk Islamic State, untuk kembali bangkit.
"Iran akan memperoleh keuntungan strategis dari kepergian koalisi tersebut karena hal itu menghilangkan kehadiran militer yang selama bertahun-tahun menjadi penyeimbang bagi pengaruh Teheran di Irak," ujar Jasim al-Bahadli, seorang analis keamanan Irak yang memiliki spesialisasi dalam kajian mengenai kelompok-kelompok bersenjata Syiah yang berpihak pada Iran.
Ia memperkirakan bahwa kelompok-kelompok milisi pro-Iran tidak hanya akan menggambarkan kepergian tersebut sebagai kemenangan bagi gerakan mereka, tetapi juga "berupaya memanfaatkan momentum itu untuk meraih pengaruh yang lebih besar dalam pengambilan keputusan terkait keamanan dan politik".
Abu Mojtaba al-Yasiri, seorang komandan di Islamic Resistance in Iraq—sebuah kelompok payung yang menaungi berbagai faksi bersenjata yang didukung Iran—menyebut penarikan pasukan AS tersebut sebagai "kemenangan bersejarah bagi kelompok-kelompok perlawanan Islam Irak dan rakyat Irak yang bermartabat, serta kekalahan telak bagi agenda Amerika".
"Pada tanggal 30 September, kami akan merayakan berakhirnya babak kelam dalam sejarah Irak serta kegagalan pihak pendudukan dalam memaksakan kehendak mereka terhadap negara kami," ujarnya kepada Reuters. "Irak telah membuktikan bahwa kedaulatannya tidak dapat dijamin oleh pasukan asing, melainkan oleh perlawanan dan tekad rakyatnya sendiri."

37 menit yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·