Pakar Energi Turki 'Kuliti' Klaim Trump soal Selat Hormuz akan Tergantikan Jalur Pipa Suriah

6 jam yang lalu 1

Peta baru Selat Hormuz yang dirilis IRGC, Senin (4/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim, peran Selat Hormuz akan berkurang pada masa mendatang. Trump meyakini hal tersebut seiring beroperasinya jaringan pipa baru dan berkembangnya jalur alternatif pengangkutan minyak di Timur Tengah.

"Pipa-pipa sedang dibangun sekarang. Jalan melalui Suriah, yang luar biasa, sedang dibangun dan sebenarnya sudah terbuka. Orang-orang membawa minyak dengan truk melalui Suriah, truk-truk besar yang mengangkut minyak," kata Trump kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).

"Sejumlah alternatif untuk Selat Hormuz sedang dibuat. Selat Hormuz tidak seperti dulu lagi, mereka (Iran) pada akhirnya akan memiliki Selat Hormuz yang tidak lagi terlalu diperlukan. Pipa-pipa sedang dibangun di seluruh Timur Tengah sehingga mereka tidak perlu melalui Hormuz," katanya menambahkan.

Pada Kamis, Trump mengunggah gambar di Truth Social yang menunjukkan sekitar 18 juta barel minyak per hari saat ini melewati selat tersebut. Angka itu turun dari sekitar 20 juta barel sebelum konflik dengan Iran dimulai.

Pada 18 Agustus, Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran. Namun, blokade angkatan laut terhadap Iran masih diberlakukan.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Di tengah ketegangan regional, lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut turun secara signifikan.

Dalam beberapa hari terakhir, jumlah kapal yang melintas hanya tersisa segelintir. Kapal tanker minyak berukuran besar dan pengangkut gas juga nyaris berhenti menggunakan jalur tersebut.

Sebelum eskalasi, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz.

Tidak terganti

sumber : Antara

Baca Artikel Selengkapnya