OJK: SNLIK jadi modal “mapping” program edukasi keuangan

5 jam yang lalu 8
Saya ingin menyampaikan betapa arti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan itu sangat penting dan bermanfaat buat masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang didukung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi modal utama untuk merencanakan (mapping) program peningkatan edukasi keuangan yang tepat di berbagai daerah.

“Saya ingin menyampaikan betapa arti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan itu sangat penting dan bermanfaat buat masyarakat. Dengan adanya Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan ini kami bisa tahu persis, ke mana kita mengarahkan kapal kita. Kita harus tahu kita berada di titik mana,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Sabtu.

“Dan dengan hasil SNLIK ini, kami tahu berapa tingkat literasi masyarakat Indonesia dan berapa tingkat inklusinya. Dengan itu kami mapping berbagai program edukasi yang baik untuk dilakukan untuk setiap wilayah-wilayah yang dirasa masih kurang tingkat literasinya maupun tingkat inklusinya,” imbuhnya.

Friderica mengatakan, ini senada dengan tugas OJK yang tak hanya mendapatkan tugas untuk mengawasi seluruh sektor jasa keuangan, tapi sekaligus bertugas untuk melindungi masyarakat dalam aktivitas keuangan mereka melalui berbagai program.

“OJK by undang-undang, mendapat tugas yang mengatur, mengawasi seluruh sektor jasa keuangan. Namun, ada satu tugas juga, melindungi. Salah satu aspek pelindungan adalah memberikan literasi, edukasi kepada masyarakat,” ujar dia.

Lebih lanjut, Friderica turut mengapresiasi BPS sebagai mitra penting dalam survei literasi dan inklusi keuangan, seiring dengan keterlibatan aktif OJK sebagai anggota Jaringan Internasional untuk Edukasi Keuangan (INFE) OECD.

“Saat ini kita sedang dalam proses aksesi untuk negara OECD, tapi kami secara aktif menjadi member dari INFE-nya, International Network for Financial Education,” kata dia.

“OECD juga punya survei terkait literasi-inklusi di semua negara OECD. Mereka (OECD) kalau survei sekitar 1.000-2.000 (sampel), sedangkan dengan BPS, tahun pertama kita 10 ribu lebih sampelnya, dan terakhir kemarin 75 ribu, jadi luar biasa. Terima kasih untuk seluruh insan statistik Indonesia,” ujarnya menambahkan.

Ia pun berharap, BPS dapat memperkuat kerja sama dengan OJK terkait SNLIK agar mendapatkan data yang lebih akurat di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

“Karena ini sangat penting, jadi kita bisa tahu provinsi mana yang masih di bawah angka nasional (literasi dan inklusi keuangan), dan mana yang sudah baik. Insya Allah tahun depan kita mau bekerja sama untuk (memperluas survei) tingkat kabupaten/kota,” ujar Friderica.

Baca juga: BPS: Hari Statistik Nasional cermin pentingnya data untuk pembangunan

Baca juga: LKBN ANTARA raih Anugerah BPS 2026 Kategori Media Massa

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya