Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang buy now pay later (BNPL) atau paylater di industri perusahaan pembiayaan masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar karena porsi baki debetnya terhadap total pembiayaan baru mencapai 2,45 persen.
“Masih sangat kecil (porsi baki debetnya). Ini sebenarnya peluang bagi industri BNPL untuk menambah porsinya. Kalau bisa 30 persen itu luar biasa, akan meningkatkan sekali pertumbuhan penyaluran pembiayaan,” kata Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK Moch. Riezky F. Purnomo di Jakarta, Kamis.
Berdasarkan informasi pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 54,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp13,62 triliun per Juli 2026.
Baca juga: OJK: Baki debet "paylater" tumbuh 33,54 persen, didorong KBMI 1 dan 3
Riezky memandang, pertumbuhan tersebut mencerminkan bahwa BNPL sudah sangat diterima oleh masyarakat.
“Saya bersyukur buy now pay later ini sudah menunjukkan kontribusi yang cukup luas,” kata dia.
Ia menyebutkan, jumlah pengguna BNPL sejauh ini telah mencapai 26,64 juta rekening. Dengan banyaknya penduduk Indonesia yang berusia produktif, menurutnya, angka tersebut menunjukkan masih terdapat peluang yang sangat besar bagi pertumbuhan BNPL.
Adapun non-performing financing (NPF) gross BNPL turun menjadi 3,03 persen per Juli 2026, membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,09 persen.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·