Nyai Hizbiyah Rochim Wahab Tekankan Pentingnya Peran Perempuan dalam Perjuangan NU

3 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Peran perempuan dalam perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) perlu terus diperkuat agar organisasi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Gagasan tersebut tercermin dalam sejarah pembentukan Muslimat NU yang diusulkan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab pada Muktamar NU 1946 di Surabaya.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nyai Hizbiyah Rochim Wahab, mengenang bahwa Mbah Wahab mengusulkan pembentukan organisasi perempuan agar perjuangan NU mendapat dukungan dari kalangan perempuan, termasuk para nyai dan kader NU.

“Kiai Wahab mengusulkan kepada muktamirin supaya dibentuk organisasi perempuan, yang bernama Muslimat NU supaya NU perjuangannya harus didukung oleh perempuan-perempuan Jam'iyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya kepada NU Online seusai pelantikan kepengurusan PBNU di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Nyai Hizbiyah, usulan tersebut tidak langsung diterima. Pembentukan Muslimat NU melalui diskusi dan perdebatan di antara peserta muktamar sebelum akhirnya disepakati.

“Sebenarnya dengan diskusi, dengan perdebatan akhirnya diterima,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, ruang bagi perempuan dalam struktur kepengurusan PBNU kala itu masih terbatas. Perempuan dapat menempati posisi mustasyar dan terlibat dalam lembaga, tetapi belum diperbolehkan menjadi pengurus harian.

Nyai Hizbiyah mencontohkan Nyai Khoriyah Hasyim dan Nyai Mahmudah Mawardi yang menempati posisi mustasyar.

Ia juga menyambut penerapan komposisi kepengurusan PBNU periode 2026–2031 yang menempatkan perempuan pada posisi mustasyar dan a'wan.

“Ya, alhamdulillah periode ini diterapkan itu sehingga tanfidziyah dan syuriyah tidak ada perempuannya. Ini yang, ini yang benar gitu. Iya yang dulu sudah kaya gitu, ini yang benar, jadi kita ditaruh mustasyar, a’wan, itu sudah bagus,” tuturnya.

Nyai Hizbiyah menegaskan bahwa pengurus PBNU periode 2026–2031 harus bekerja bersama untuk membawa perubahan dan memajukan organisasi.

“Kami dari pengurus PBNU periode 2026-2031 perempuan, tentunya harus ada perubahan NU ke depan lebih maju, lebih berkah, barokah, manfaat untuk kepentingan rakyat Indonesia, bangsa dan negara, agama yang kita cintai ini. Untuk itu diperlukan kekompakan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya persatuan seluruh 210 pengurus PBNU untuk menyambut dua abad NU sekaligus berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Yang penting kebersamaan kita semuanya, NU, badan otonomnya, dengan saya maju untuk menyambut Indonesia yaitu 2045 untuk menyambut Indonesia Emas. Semangat, terus semangat,” tegasnya.

Sementara itu, A'wan PBNU Nyai Ida Fatimah Zainal menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi melalui tindakan nyata, baik secara individu maupun kolektif.

“Baik secara kolektif organisasi maupun secara individu, kita punya kewajiban untuk selalu menjaga marwah, selalu menjaga nama baik NU. Tidak hanya begitu, tetapi harus bisa implementasinya, harus bisa melaksanakan program-program untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” tandasnya.

Baca Artikel Selengkapnya