Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai Prancis telah dilanda "invasi Islam ekstremis" menyusul demonstrasi besar-besaran yang berakhir rusuh di sejumlah daerah.
Pernyataan provokatif itu disampaikan Netanyahu untuk mengkritik Prancis menyusul demonstrasi yang semula dipicu aksi pelajar yang memprotes fasilitas sekolah buruk hingga kini meluas menjadi protes terkait biaya hidup yang makin tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancaranya dengan media Prancis, Netanyahu menuding para pemimpin Prancis gagal mengantisipasi kerusuhan. Ia mengklaim bahwa gejolak tersebut dipicu oleh kelompok ekstremis Islam, meskipun masyarakat Prancis yang turun ke jalan di berbagai kota besar, termasuk ibu kota Paris, terdiri atas beragam kelompok.
"Mereka (Prancis) tidak melakukan persiapan tepat waktu dan begitu saja menyerah. Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis," kata Netanyahu dalam wawancaranya bersama media Prancis iNews24, Selasa (20/10).
Dikutip AFP, Netanyahu mengatakan Prancis harus "lawan balik, jangan menerapkan kebijakan akomodasi terhadap mereka-lawan kelompok ekstremis", ketika ditanya saran apa yang akan ia berikan kepada Prancis untuk menghadapi situasi ini.
Ia menambahkan bahwa setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dirinya telah memperingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa "jika kita tidak memberantas mereka di sini, kalian akan menghadapi mereka di Paris-dan itulah yang sedang terjadi sekarang".
Namun, ia tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Pernyataan tersebut menggemakan retorika politikus dan komentator sayap kanan negara-negara Barat yang melontarkan klaim tanpa dasar bahwa sejumlah wilayah di Eropa, seperti Inggris, telah berada di bawah penerapan hukum Islam akibat imigrasi yang marak selama beberapa tahun terakhir.
Klaim semacam itu sarat akan sentimen Islamofobia di Eropa yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, Prancis merupakan salah satu dari sejumlah negara Eropa yang akhirnya mengakui negara Palestina pada tahun lalu, sebuah keputusan yang memicu kemarahan Israel.
Selain Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memanfaatkan aksi protes di Prancis untuk menyalahkan imigrasi. Ia mendesak negara-negara Eropa dan Macron agar memperketat perbatasan.
"Apa yang terjadi di Prancis berkaitan dengan imigrasi, bukan sekolah atau hal lainnya," kata Trump kepada wartawan di Washington pada Senin.
"Ini soal imigrasi, dan saya sudah mengatakan kepada Presiden Emmanuel Macron untuk menutup perbatasan kalian."
Trump menjadikan pemberantasan imigrasi ilegal sebagai salah satu janji utama kampanyenya pada 2024. Dalam sejumlah kesempatan, ia menggunakan klaim keliru yang mengeksploitasi ketakutan terkait ras.
Pada Agustus, Netanyahu juga secara sinis menyebut Inggris sebagai "republik Islam". Pernyataan tersebut menuai kecaman dari pemerintah Inggris, yang menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima".
(rds)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·