Warga Palestina mengevakuasi jenazah setelah serangan udara Israel di pelabuhan Gaza dekat pantai di Kota Gaza, 18 Agustus 2026. Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan bahwa setidaknya enam warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan udara Israel di wilayah barat Kota Gaza.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Para pejabat tinggi militer Israel dilaporkan menduga bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mungkin berupaya meningkatkan eskalasi situasi di Gaza dalam waktu dekat. Ini dilakukan menjelang pemilihan umum parlemen.
Surat kabar Israel, Maariv, melaporkan adanya penilaian di kalangan petinggi militer Israel yang mengindikasikan bahwa Netanyahu tidak ingin konflik yang sedang berlangsung berakhir dan mungkin akan memicu kembali eskalasi di Gaza.
Menurut laporan tersebut, para pejabat militer khawatir bahwa eskalasi semacam itu dapat digunakan untuk mengganggu atau menunda proses pemilihan umum.
Kekhawatiran tersebut telah memicu peringatan yang sangat tegas dan tidak biasa dari para perwira tinggi. "Kami tidak akan terlibat dalam perang baru yang tidak perlu," demikian pernyataan mereka yang dikutip dalam laporan tersebut.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan ketegangan yang kian meningkat antara pimpinan politik dan militer Israel terkait kelanjutan atau perluasan operasi militer, di tengah situasi politik yang menantang bagi Netanyahu menjelang pemilu.
Hal ini berkaitan erat dengan hasil jajak pendapat terkini yang menunjukkan bahwa blok pemerintahan Netanyahu tidak berhasil meraih mayoritas kursi parlemen yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Israel dijadwalkan akan menggelar pemilihan umum parlemen pada 27 Oktober.
Kementerian Kesehatan di Gaza pada Ahad menyatakan bahwa jumlah korban jiwa akibat agresi Israel yang terus berlangsung di wilayah tersebut telah mencapai 73.420 warga Palestina tewas dan 174.369 orang terluka sejak 7 Oktober 2023.
Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa rumah sakit di Gaza menerima satu korban jiwa dan lima warga Palestina yang terluka dalam kurun waktu 48 jam terakhir.
Sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, jumlah warga Palestina yang syahid bertambah menjadi 1.286 orang, sementara 4.257 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 813 jenazah juga telah berhasil dievakuasi.
Otoritas kesehatan melaporkan bahwa sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, karena tim ambulans serta penyelamat terus menghadapi kesulitan untuk menjangkau dan mengevakuasi mereka.

12 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·