REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan enggan mengizinkan keterlibatan Israel dalam perang di Yaman karena khawatir memicu dampak negatif dari opini publik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mendesak agar negaranya diizinkan menyerang target-target kelompok Houthi di Yaman, demikian disampaikan seorang sumber diplomatik kepada harian Haaretz yang dikutip laman i24tv, Senin(12/10/2026).
Menurut laporan tersebut, Netanyahu menggunakan mediator Amerika Serikat untuk mengamankan izin dari Arab Saudi agar Israel dapat mengintervensi konflik yang telah berlangsung selama satu dekade tersebut.
Tujuan utama Netanyahu adalah membawa Israel "bergabung" dengan Arab Saudi sekaligus mempererat hubungan demi memuluskan jalan menuju kesepakatan normalisasi pada masa depan.
Namun, Putra Mahkota Arab Saudi yang akrab disapa MBS tersebut dinilai belum bersedia memberikan lampu hijau bagi campur tangan Israel. Ia meyakini langkah itu akan direspons negatif oleh masyarakat Arab Saudi.
Sebagai penguasa de facto yang menjabat sebagai perdana menteri sekaligus putra mahkota, restu dari MBS menjadi syarat mutlak. Tanpa persetujuannya, Israel hampir dipastikan tidak akan mendapatkan akses untuk terlibat dalam peperangan tersebut.

39 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·