Netanyahu Ancam Bunuh Anak-Anak Gaza yang Main Layang-Layang

29 menit yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Layang-layang yang diterbangkan anak-anak di Jalur Gaza memicu ancaman brutal dari Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam meningkatkan operasi pembunuhan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas layang-layang yang mencapai wilayah permukiman Israel di sekitar Gaza.

Ancaman tersebut muncul meski militer Israel mengakui tidak menemukan bahan mencurigakan pada layang-layang yang ditemukan di sekitar wilayah perbatasan. Militer Israel juga menyatakan layang-layang tersebut tidak membahayakan masyarakat.

Media Israel dalam beberapa hari terakhir melaporkan sejumlah layang-layang mencapai komunitas di sekitar Jalur Gaza.

Informasi lapangan yang diperoleh Anadolu menunjukkan layang-layang tersebut umumnya diterbangkan anak-anak untuk bermain, terutama di kamp-kamp pengungsian. Di tengah kondisi kehidupan yang berat akibat perang Israel di Gaza, anak-anak memanfaatkan layang-layang sebagai salah satu cara mencari sedikit hiburan.

Layang-layang tersebut dikendalikan menggunakan tali dari daratan. Jika tali putus, angin dapat membawa layang-layang hingga keluar dari wilayah Gaza. Sejumlah permukiman Israel berada hanya beberapa kilometer dari wilayah Gaza.

Meski tidak ditemukan bahan peledak pada layang-layang yang diamankan, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Ahad (23/8/2026) mengancam meningkatkan operasi militer di Gaza.

Dalam pernyataan bersama setelah rapat penilaian keamanan yang dihadiri Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir dan sejumlah pejabat militer senior, Netanyahu dan Katz mengatakan militer akan "meningkatkan operasi pembunuhan" terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Mereka juga mengancam akan mengevakuasi warga dari wilayah yang menurut Israel menjadi lokasi peluncuran layang-layang, balon, atau drone.

Sebelumnya pada hari yang sama, Katz memerintahkan militer Israel bertindak "segera dan dengan kekuatan penuh" terhadap layang-layang dan balon yang datang dari Gaza.

"Balon seperti layang-layang, dan layang-layang seperti drone, baik membawa bahan peledak maupun tidak," kata Katz.

Hamas: Itu Mainan Anak-Anak

Ancaman Israel tersebut memicu kecaman dan kekhawatiran di kalangan warga Palestina di Gaza. Mereka khawatir isu layang-layang digunakan sebagai alasan untuk memperluas eskalasi militer Israel.

Juru bicara Hamas Hazem Qassem memperingatkan Israel agar tidak menjadikan layang-layang yang diterbangkan anak-anak di kamp pengungsian sebagai alasan untuk melakukan serangan.

"Ancaman ini, yang didasarkan pada dalih-dalih palsu, merupakan upaya membenarkan berlanjutnya agresi dan pelanggaran terhadap rakyat kami, hingga mengancam anak-anak di Jalur Gaza," kata Qassem.

Dia mendesak pemerintah Amerika Serikat, para mediator, negara-negara penjamin, dan Dewan Perdamaian menekan Israel agar menghentikan serangan yang dinilai terus merusak kesepakatan gencatan senjata. Qassem menegaskan pihak Palestina sepenuhnya mematuhi gencatan senjata.

Analis politik Palestina Iyad al-Qarra mengatakan ancaman Israel dapat memiliki kepentingan militer sekaligus politik dalam negeri.

Menurut dia, ancaman tersebut dapat menjadi sinyal bagi kemungkinan dimulainya kembali serangan udara yang lebih luas dengan dalih yang lemah. Pada saat yang sama, isu tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik domestik Israel menjelang pemilu.

Al-Qarra menyoroti pernyataan kalangan militer dan keamanan Israel sendiri yang menyebut layang-layang tersebut tidak menimbulkan ancaman.

Dia menilai Israel sedang berusaha menciptakan suasana eskalasi dan mengalihkan perhatian publik dari persoalan domestik, sekaligus menghindari kewajibannya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

"Bagaimana mungkin sebuah negara nuklir sebesar Israel merasa terancam oleh layang-layang yang diterbangkan anak-anak?" kata Al-Qarra.

Militer Israel pada Sabtu mengatakan menemukan empat layang-layang di sekitar komunitas Nahal Oz dalam kurun waktu sekitar 24 jam. Satu layang-layang ditemukan pada Jumat dan tiga lainnya pada Sabtu pagi.

Setelah memeriksa layang-layang tersebut, militer Israel mengakui tidak menemukan "bahan mencurigakan" dan menyatakan benda-benda tersebut "tidak membahayakan masyarakat".

Pernyataan militer Israel tidak memberikan bukti bahwa layang-layang tersebut sengaja dikirim menuju wilayah Israel.

Meski demikian, sejumlah kepala dewan lokal di wilayah sekitar Gaza menyerukan respons militer terhadap layang-layang tersebut. Seruan itu muncul sebelum Katz memerintahkan tindakan terhadap layang-layang dan balon yang mencapai wilayah Israel dari Gaza.

Pasukan Israel dilaporkan melakukan pelanggaran gencatan senjata setiap hari sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina, pelanggaran tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.286 orang dan melukai 4.257 lainnya.

Israel melancarkan perang besar-besaran ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 174 ribu lainnya.

Perang juga menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza, yang membuat sebagian besar penduduk menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat berat.

Di tengah kehancuran tersebut, layang-layang yang diterbangkan anak-anak menjadi simbol kecil upaya mereka mencari ruang bermain dan hiburan. Namun, benda yang bagi anak-anak merupakan mainan itu kini justru dijadikan Israel sebagai alasan untuk mengancam eskalasi militer.

Baca Artikel Selengkapnya