Mustahil tapi Nyata, Gurun Taklimakan China Kini Jadi Industri Seafood Premium

1 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah bentang Gurun Taklimakan yang dikenal gersang dan tandus, sebuah terobosan tak biasa terjadi di Kota Aral, Daerah Otonom Xinjiang Uighur, China. Wilayah yang berada jauh dari laut itu kini mampu membudidayakan berbagai hasil laut, sehingga masyarakat setempat dapat menikmati udang dan ikan segar yang diproduksi secara lokal.

Keberhasilan tersebut dicapai melalui pengembangan akuakultur di perairan garam-alkali yang selama ini dianggap sulit dimanfaatkan. Padahal, Xinjiang memiliki banyak sungai, danau, serta waduk, namun kondisi iklim yang kering, paparan sinar matahari yang panjang, dan luasnya lahan garam-alkali menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian dan perikanan.

Sejak 2017, pemerintah China mulai mendorong pemanfaatan lahan garam-alkali untuk pengembangan akuakultur. Namun upaya awal di Aral tidak berjalan mulus. Para petani setempat mengalami kerugian bertahun-tahun saat mencoba membudidayakan udang putih Pasifik menggunakan sistem akuakultur resirkulasi.

"Kami menginvestasikan 600 ribu hingga 700 ribu yuan setiap tahun sejak 2018, tetapi terus merugi. Saya hampir menyerah," kata Kepala Koperasi Akuakultur Longda di Aral, Peng Renkai pada Kamis (18/6/2026).

Titik balik datang setelah tim ilmuwan dan spesialis teknologi dari Provinsi Zhejiang melakukan penelitian terhadap karakteristik air garam-alkali bawah tanah di wilayah tersebut. Melalui pengambilan sampel dan analisis mendalam, mereka berhasil mengidentifikasi perbedaan mendasar antara air garam-alkali lokal dan air laut alami, sekaligus menemukan solusi atas berbagai hambatan teknis yang selama ini menghambat budi daya hasil laut di gurun.

Peneliti Universitas Zhejiang, Shu Miao'an, mengatakan air garam-alkali tidak hanya memiliki tantangan, tetapi juga potensi yang dapat dikembangkan menjadi industri bernilai ekonomi tinggi.

"Air garam-alkali juga memiliki kelebihannya sendiri. Kami berharap dapat mengembangkannya menjadi industri yang makmur dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat," ujarnya.

Selain dukungan teknologi, para petani dan teknisi lokal juga mengembangkan sistem akuakultur resirkulasi yang disesuaikan dengan iklim kering Xinjiang. Sistem tersebut dirancang untuk mengatasi keterbatasan sumber daya air sekaligus menjaga produktivitas kolam budidaya.

Teknisi Koperasi Akuakultur Longda, Zhao Wei, mengatakan produktivitas budidaya kini meningkat signifikan.

sumber : Xinhua

Baca Artikel Selengkapnya