Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan aliran modal asing masuk (capital inflow) senilai Rp140,7 triliun hingga 14 September 2026 perlu dikelola untuk menjadi jembatan menuju investasi yang lebih produktif.
Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat, menyebutkan masuknya dana asing tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap aset Indonesia mulai membaik.
Hanya saja, kata dia, dana tersebut bersifat investasi portofolio yang relatif mudah keluar lantaran lebih banyak ditempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Yusuf, aliran dana itu membantu menopang rupiah dan memperkuat cadangan devisa dalam jangka pendek. Namun, dampaknya terhadap produksi dan penciptaan lapangan kerja belum terjadi secara langsung.
“Karena itu, aliran dana tersebut perlu dijadikan jembatan menuju investasi yang lebih produktif,” ujarnya.
Yusuf menjelaskan dana dari penerbitan SBN sebaiknya digunakan untuk belanja modal yang benar-benar menurunkan biaya usaha, seperti konektivitas kawasan industri, energi, dan infrastruktur logistik.
Hilirisasi mineral, pertanian, dan energi juga perlu diperkuat supaya modal asing tidak hanya masuk ke surat berharga, tetapi ikut membangun pabrik, mengembangkan rantai pasok, dan menyerap tenaga kerja.
Untuk mendukungnya, Yusuf menilai pemerintah perlu terus memperbaiki insentif fiskal, perizinan melalui OSS, dan kepastian regulasi.
Sementara dari sisi moneter, Bank Indonesia dinilai perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan penyaluran kredit.
“Ketika tekanan terhadap rupiah mulai mereda, penerbitan SRBI bisa disesuaikan secara bertahap agar likuiditas perbankan lebih banyak mengalir ke kredit modal kerja dan investasi,” katanya menambahkan.
Kebijakan makroprudensial juga bisa digunakan untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif, lanjut Yusuf. Pasar obligasi korporasi dan saham juga perlu diperdalam supaya investor memiliki lebih banyak pilihan investasi jangka panjang.
Maka dari itu, kemampuan Indonesia mengarahkan dana portofolio ke sektor riil disebut sangat bergantung pada kepastian hukum, ketersediaan energi, kualitas tenaga kerja, dan konsistensi kebijakan.
“Kalau kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural berjalan searah, aliran dana asing ini bisa ikut memperkuat kapasitas produksi nasional, bukan sekadar menambah likuiditas di pasar keuangan,” tuturnya.
Baca juga: Menkeu Suahasil sebut arus modal asing masuk ke RI Rp140,7 triliun
Baca juga: BI: Net inflow portofolio asing 1,8 miliar dolar AS hingga 14 Agustus
Baca juga: Ekonom: Transmisi modal asing perlu diperkuat demi ungkit sektor riil
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·